ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Ketika 'Vampir' Menjadi Senjata Teror Anti-Gerilya di Filipina

Pemimpin Hukbalahap Luis M. Taruc bersama pengikutnya (1950).
(Sumber: wikipedia)


Oleh: Abhinaya Rivarieztho


Mahluk supranatural dalam mitologi di Filipina 'Aswang' dipercayai gemar menghisap darah seperti vampir, belajar dari hal ini intelejen militer mengembangkannya menjadi psyschological warfare untuk menghadapi gerilyawan komunis.

Setiap tanggal 31 Oktober di dunia barat identik dengan perayaan Halloween, sebuah malam yang lekat dengan berbagai kisah horor, makhluk supernatural, dan legenda menyeramkan. Salah satu sosok yang paling terkenal dalam Halloween tersebut adalah Vampir (Vampire), makhluk penghisap darah yang selama berabad-abad meneror manusia. Namun, di balik legenda dan cerita horor tersebut, ternyata terdapat sebuah kisah sejarah nyata yang jauh lebih mengejutkan. Vampir bukan hanya menjadi bagian dari mitologi dan cerita rakyat, tetapi juga pernah dimanfaatkan sebagai alat untuk menebarkan teror dalam sebuah operasi militer di dunia nyata. Bagaimana mungkin sosok yang identik dengan cerita horor bisa digunakan sebagai senjata dalam peperangan?

Seperti yang ditulis oleh Joseph R. Tomczak (2023) dalam monografinya berjudul “Parallel Lives in the Indo-Pacific: Edward Lansdale, Donald Wurster, and the Irregular Warfare Mind-set” (2023). Kisah ini bermula dari sebuah operasi perang psikologis di tengah hutan Filipina pada awal 1950-an, ketika pasukan yang terlibat dalam upaya melawan gerilyawan komunis Hukbong Bayan Laban sa Hapon (Hukbalahap) memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap makhluk penghisap darah bernama Aswang. Dalam cerita rakyat Filipina, Aswang dikenal sebagai makhluk supranatural yang digambarkan sebagai penghisap darah. Legenda tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan teror di kalangan gerilyawan melalui sebuah skenario mengerikan yang melibatkan mayat dengan luka menyerupai bekas gigitan makhluk pengisap darah.

Menurut artikel yang ditulis Kristen Winiarski dalam allthatsinteresting.com berjudul “Inside The Terrifying Legend Of The Aswang, The Shapeshifting Filipino Monster That Devours Humans” tanggal 6 September 2024, Aswang digambarkan sebagai sosok yang memiliki beragam bentuk. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, mulai dari menyerupai manusia bersayap mengerikan yang berkeliaran pada malam hari. Mahluk itu hidup di antara masyarakat biasa, tetapi menjadi penghisap darah ketika malam tiba, layaknya Vampir.

Legenda Aswang ini pernah digunakan untuk membuat kelompok Hukbalahap menyerah. Dalam Britannica Encyclopedia berjudul “Hukbalahap Rebellion”, kelompok ini awalnya dibentuk untuk melawan penjajahan Jepang namun kemudian berkonflik dengan pemerintah Filipina (didukung Amerika). Pergerakannnya beroperasi di kawasan hutan Luzon Tengah, sehingga pemerintah Filipina melancarkan berbagai operasi militer dan perang psikologis untuk melemahkan kekuatan mereka.

Edward Lansdale bersama Menteri Pertahanan Filipina Ramon Magsaysay
(sumber: kahimyang.com) 

Dalam artikel yang ditulis Haley Fuller dalam military (military.com) berjudul “Cold War Operation Used ‘Vampire’ Folklore to Intimidate Philippine Insurgents” tanggal 3 Mei 2026, untuk menghadapi pemberontakan tersebut Filipina memperoleh bantuan dari Amerika Serikat. Salah satu perwira sekaligus agen CIA bernama Edward Geary Lansdale juga dikirimkan, dikenal sebagai ahli perang psikologis (psychological warfare). Lansdale kemudian memanfaatkan pemahaman terhadap kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat untuk merancang strategi untuk menciptakan  ketakutan dan kondisi psikologis lawan.

Lansdale menyusun strategi ini bekerja sama dengan Menteri Pertahanan Filipina Ramon Magsaysay. Joseph R. Tomczak dalam monografya berjudul “Parallel Lives in the Indo-Pacific: Edward Lansdale, Donald Wurster, and the Irregular Warfare Mind-set” (2023), menjelaskan Lansdale dan Magsaysay mulai mengembangkan perang psikologis degan menyebarkan informasi dan propaganda palsu setelah mempelajari kepercayaan dan mitos masyarakat setempat, termasuk legenda Aswang.  

Desas-desus disebarkan ke segala penjuru agar sampai di telinga gerilyawan komunis yang berbasis di sekitar perbukitan. Rumor tersebut sengaja dibiarkan menyebar melalui penduduk desa agar akhirnya mencapai kelompok gerilyawan. Dengan demikian, legenda Vampir tidak digunakan sebagai makhluk sungguhan, melainkan sebagai instrumen intimidasi dan perang psikologis untuk memaksa musuh meninggalkan persembunyiannya.

Tepat setelah rumor mengenai keberadaan Aswang mulai disebarkan, operasi perang psikologis tersebut dilanjutkan dengan tindakan yang lebih mengerikan. Menurut kisah yang diceritakan Edward Lansdale dalam memoarnya, sebuah tim operasi menangkap seorang anggota gerilyawan Hukbalahap yang sedang berpatroli di kawasan hutan. Korban kemudian dibunuh dan tubuhnya dimanipulasi agar menyerupai korban serangan makhluk pengisap darah. Dua luka tusukan dibuat pada bagian leher, kemudian darahnya dikuras. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kesan bahwa gerilyawan telah diserang oleh Aswang di sekitar kawasan hutan persembunyian gerilyawan.

Jenazah si gerilyawan ditinggalkan di lokasi yang memungkinkan ditemukan oleh anggota lainnya. Ketika menemukan tubuh rekannya dalam kondisi mengenaskan, para gerilyawan dihadapkan pada pemandangan yang memperkuat rumor mengenai keberadaan Aswang di hutan. Ketakutan terhadap makhluk tersebut kemudian dikisahkan mendorong kelompok Hukbalahap meninggalkan kawasan persembunyian mereka. Dengan demikian, mitos ini dimanfaatkan sebagai instrumen teror psikologis, sementara mayat manusia dijadikan alat untuk membangun ilusi serangan supranatural tanpa harus menghadapi langsung musuh. Demikian Joseph R. Tomczak dalam monografnya.

Luis M. Taruc (kanan) menyerah kepada Pemerintah Filipina pada 17 Mei 1954
(Sumber: allthatsinteresting.com)

Strategi ini berhasil melemahkan mental gerilyawan tanpa harus bertempur terbuka. Ramon Magsaysay mengembangkan strategi yang menggabungkan tekanan militer dengan upaya memenangkan kembali dukungan masyarakat pedesaan. Program reformasi, pendekatan kepada penduduk, dan penanganan keluhan masyarakat turut menjadi bagian dari upaya melemahkan basis dukungan gerilyawan Hukbalahap. Hingga Ramon Magsaysay, akhirnya naik sebagai presiden untuk meningkatkan operasi militer, keamanan, serta pendekatan politik untuk menghadapi pemberontakan secara lanjut.

Menurut artikel berita daring The Kahimyang Project (kahimyang.com) berjudul “CIA Psychological Warfare and the Aswang Operation in the Philippines”, menyebutkan bahwa pada 17 Mei 1954, pemimpin utama Hukbalahap, Luis Taruc, akhirnya menyerahkan diri kepada pemerintah Filipina setelah bertahun-tahun memimpin pemberontakan bersenjata. Penyerahan diri tersebut menjadi salah satu penanda penting berakhirnya pemberontakan Huk sebagai kekuatan militer terorganisasi. Kelompok Huk yang masih bertahan sudah jauh melemah dan tidak lagi memiliki kekuatan militer berarti. Meskipun demikian, keberhasilan ini tidak semata-mata disebabkan oleh ‘taktik Aswang’, melainkan kolaborasi dari berbagai operasi gabungan baik secara militer dan non militer.

Kisah ini memperlihatkan bahwa peperangan dimenangkan melalui manipulasi informasi, kepercayaan, serta kondisi psikologis lawan. Di balik suasana Halloween yang salah satunya identik dengan sosok Vampir (seperti Aswang), mengingatkan bahwa terkadang cerita horor paling menyeramkan bukan berasal dari dunia supranatural, melainkan dari bagaimana manusia memanfaatkan ketakutan itu sendiri sebagai senjata. 

---


Baca Artikel Lainnya oleh Abhinaya

-Memaknai Peristiwa Mandor 1944

-Lebih Dari Sekedar Kemerdekaan, Kilas Balik 250 Tahun Revolusi Amerika

Post a Comment

0 Comments