ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Jejak Perjuangan Pemuda Menuju 28 Oktober 1928

Para pemuda yang terlibat dalam Kongres Pemuda 27-28 Oktober 2028
(Sumber: Museum Sumpah Pemuda)

Oleh: Rama Aditya Putra

 Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Pada awal abad ke-20, nasionalisme Indonesia tumbuh melalui perubahan pendidikan, perkembangan pers, dan meningkatnya kesadaran terhadap ketidakadilan kolonial. Kebijakan Politik Etis membuka kesempatan pendidikan bagi sebagian penduduk bumiputra, meskipun aksesnya masih terbatas. Dari sekolah-sekolah di Hindia Belanda, lahir generasi terpelajar yang mulai memahami bahwa penderitaan akibat kolonialisme bukan semata-mata persoalan daerah, melainkan persoalan bersama.

Kesadaran serupa berkembang di Eropa. Pada 1908, para mahasiswa Hindia Belanda mendirikan Indische Vereeniging di Belanda. Organisasi yang semula bergerak dalam kegiatan sosial ini berkembang menjadi wadah perjuangan politik. Pada 1922, namanya berubah menjadi Indonesische Vereeniging, kemudian dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia pada 1925. Melalui majalah Indonesia Merdeka dan Manifesto Politik 1925, tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta memperjuangkan persatuan nasional dan kemerdekaan Indonesia di hadapan dunia internasional. Menurut Atiqoh dan Sardiman A. M. (1930) dalam tulisan berjudul “Perhimpunan Indonesia sebagai Organisasi Pergerakan Indonesia yang Revolusioner (1922–1930)”, Perhimpunan Indonesia merupakan salah satu organisasi pergerakan yang berperan dalam perkembangan perjuangan nasional Indonesia.

Sementara itu, di Hindia Belanda, organisasi pemuda tumbuh dengan latar belakang kedaerahan. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, dan Pemuda Kaum Betawi menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar berorganisasi dan membangun kesadaran bersama. Walaupun berangkat dari identitas yang berbeda, organisasi-organisasi tersebut perlahan menyadari bahwa perjuangan akan lebih kuat apabila diarahkan pada cita-cita nasional. Nasionalisme tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh melalui pendidikan, keberanian berpikir, organisasi, dan kesediaan melampaui kepentingan kelompok. Pemuda masa kini perlu memahami bahwa ilmu bukan sekadar sarana memperoleh gelar, melainkan bekal untuk membaca persoalan masyarakat dan menghadirkan perubahan. Perbedaan asal daerah maupun organisasi seharusnya menjadi kekayaan untuk berkolaborasi, bukan alasan untuk terpecah.

Semangat persatuan tersebut mencapai tahap penting melalui Kongres Pemuda Pertama yang berlangsung di Batavia pada 30 April–2 Mei 1926. Upaya membangun persatuan pada masa itu tidak hanya berlangsung di kalangan pemuda. Pada 17–18 Desember 1927, sejumlah organisasi dan partai politik membentuk Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) di Bandung. Federasi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh pergerakan, termasuk Soekarno dan Sukiman, ini menghimpun organisasi seperti PNI, Partai Sarekat Islam, Budi Utomo, Pasundan, dan kelompok pergerakan lainnya untuk menyelaraskan arah perjuangan menuju kemerdekaan. Kehadiran PPPKI menunjukkan bahwa gagasan persatuan telah dirintis melalui kerja sama politik sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan pada 1928. Peran tokoh pemuda dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda menjadi bagian penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Hal tersebut dibahas oleh Farah Tinesia Madhiyah, Humaidi, dan M. Hasmi Yanuardi (2021) dalam artikel “Mohammad Tabrani Soejowitirjto: Peran dalam Kongres Pemuda 1925–1928”.

Teks putusan Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928
(Sumber: Museum Sumpah Pemuda)

Kongres Pemuda II berlangsung dalam tiga rapat di lokasi berbeda. Rapat pertama pada 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond membahas persatuan dan kebangsaan. Rapat kedua pada 28 Oktober di Oost-Java Bioscoop membicarakan pendidikan. Rapat ketiga berlangsung di Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya No. 106, yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, dengan pembahasan mengenai nasionalisme, demokrasi, dan kepanduan. Di balik peristiwa bersejarah tersebut, terdapat kontribusi masyarakat dari latar belakang yang beragam. Salah satu sosok yang patut dikenang ialah Sie Kong Lian, seorang pemilik rumah keturunan Tionghoa yang gedungnya menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi para pemuda pergerakan. Sebelum dikenal sebagai lokasi ikrar Sumpah Pemuda, bangunan itu telah digunakan sebagai tempat tinggal pelajar dan ruang aktivitas organisasi pemuda. Kehadiran gedung tersebut memperlihatkan bahwa sejarah perjuangan Indonesia juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat lintas etnis, termasuk masyarakat Tionghoa.

Sumpah Pemuda bukanlah awal mutlak nasionalisme Indonesia, melainkan tonggak yang memperjelas arah perjuangan. Para pemuda tidak menghapus identitas daerah mereka; mereka menempatkan identitas tersebut dalam cita-cita yang lebih luas bernama Indonesia. Persatuan tidak menuntut semua orang menjadi sama. Persatuan membutuhkan kesediaan untuk menemukan tujuan bersama di tengah perbedaan. Generasi muda saat ini dapat meneladani semangat tersebut dengan membangun kolaborasi, menjaga dialog, dan mengutamakan kepentingan masyarakat daripada persaingan yang tidak produktif. Sebab, kekuatan pemuda tidak hanya diukur dari kemampuan berbicara tentang perubahan, tetapi juga dari kesanggupan bekerja bersama untuk mewujudkannya. Perkembangan bahasa Indonesia menjelang kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari momentum Sumpah Pemuda 1928 dan Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1938. Hubungan historis tersebut dikaji oleh Sudaryanto (2018) dalam artikel “Dari Sumpah Pemuda (1928) sampai Kongres Bahasa Indonesia I (1938): Kajian Linguistik Historis Sekitar Masa-Masa Prakemerdekaan”.

Menjelang penutupan Kongres Pemuda Kedua pada 28 Oktober 1928, Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya yang berjudul Indonesia Raya. Karena situasi politik kolonial cukup ketat, lagu tersebut diperkenalkan melalui permainan biola, bukan dengan menyanyikan seluruh liriknya. Melodi itu disambut antusias oleh para peserta kongres dan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Lagu tersebut kemudian dipublikasikan melalui surat kabar Sin Po pada 10 November 1928 sehingga dapat dikenal lebih luas. Pada masa berikutnya, Indonesia Raya berkembang menjadi simbol perjuangan kemerdekaan dan akhirnya ditetapkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Patung W.R. Supratman memainkan biolanya 
(Sumber: Good News For Indonesia)

Peristiwa itu menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung melalui pidato, organisasi, dan keputusan politik. Seni juga mampu menyampaikan cita-cita yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Ketika para pemuda menyatukan ikrar kebangsaan, Soepratman menyumbangkan melodi yang membantu menghidupkan semangat tersebut.

Setiap generasi mempunyai cara untuk memperjuangkan bangsanya. Para pemuda 1928 menggunakan organisasi, gagasan, pendidikan, dan karya seni. Pemuda masa kini dapat melanjutkan semangat itu melalui ilmu pengetahuan, teknologi, literasi sejarah, karya kreatif, serta pengabdian kepada masyarakat. Hal yang terpenting bukan sekadar mengulang simbol perjuangan, melainkan menghidupkan nilai yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa bangsa yang besar dibangun oleh generasi yang mampu melihat melampaui dirinya sendiri. Dari ruang-ruang pendidikan di Hindia Belanda hingga organisasi mahasiswa di Eropa, dari pertemuan antar pemuda hingga gesekan biola Indonesia Raya, semuanya menyampaikan satu pelajaran: Indonesia menjadi kuat ketika perbedaan dipertemukan oleh cita-cita bersama. Tugas pemuda hari ini bukan hanya mengenang keberanian generasi 1928, tetapi meneruskannya melalui karya nyata untuk masa depan Indonesia.

Post a Comment

0 Comments