![]() |
| Relief ilustrasi kekejaman Jepang di Makam Juang Mandor (Jessica Wuysang/Antara) |
Oleh: Abhinaya Rivariezhto
Dalam rangka Peringatan Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat yang jatuh setiap tanggal 28 Juni, kembali menjadi momentum krusial bagi masyarakat untuk merefleksikan tragedi kemanusiaan Peristiwa Mandor 1944. Pembantaian massal terhadap ribuan tokoh dan warga sipil pada masa pendudukan Jepang ini bukan sekadar catatan sejarah kelam masa lalu. Lebih dari itu, tragedi ini membawa pesan mendalam tentang urgensi merawat persatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta melestarikan memori kolektif agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Semangat untuk menggali hikmah sejarah tersebut misalnya dapat diwujudkan melalui kegiatan seminar, dan pada tahun ini diadakan di Aula Perpustakaan Kota Pontianak pada 28 Juni 2026. Forum ini ditujukan untuk membuka ruang kontemplasi untuk mentransformasikan tragedi masa lalu menjadi fondasi moral bagi kehidupan masyarakat modern. Ditinjau dari sisi korban, seperti yang dirasakan Erni, mengisahkan bahwa kakeknya Tuan Besar Kubu Syarif Saleh Al-Idrus, ditangkap tentara Jepang dan tidak pernah kembali. Menjadi trauma di tengah keluarga besar yang masih diliput kesedihan. Untuk itu Erni mengajak berbagai pihak khususnya generasi masa kini untuk menjaga perdamaian.
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007 merupakan simbol penghormatan pemerintah terhadap para korban. Keberadaan Monumen Makam Juang Mandor dan kegiatan peringatan tahunan harus dimaknai melampaui seremonial belaka menurut Karel Junirdi, sejarawan UPGRI Pontianak. Tempat dan momentum tersebut menjadi media edukasi kultural yang efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme, memperkuat solidaritas sosial, serta menanamkan rasa hormat yang mendalam terhadap hak asasi manusia.
![]() |
| Kegiatan memperingati Hari Berkabung Daerah 28 Juni 2026 (Dok. Abhinaya) |
Sementara itu, M. Rikaz Prabowo memaparkan bahwa Peristiwa Mandor tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pendudukan Jepang selama Perang Dunia II yang melihat daerah ini sangat strategis. Dari peristiwa tersebut, masyarakat dapat belajar bahwa kekuasaan yang dijalankan tanpa menghormati nilai kemanusiaan akan melahirkan penderitaan serta menghancurkan kehidupan sosial.
Kegiatan-kegiatan seperti ini sejatinya agar tidak hanya membahas sejarah masa lalu, tetapi juga pentingnya pelestarian memori sejarah. Selain itu, juga menyoroti pentingnya merawat simbol sejarah seperti tugu-tugu peringatan yang telah dibangun. Gagasan visioner lainnya juga dapat diaktualisasikan misalnya melalui publikasi dan media modern seperti penelitian mendalam, penulisan buku, hingga produksi film sejarah. Hal ini diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi sejarah yang relevan bagi generasi Z dan alfa.
Kegiatan seperti ini membuka ruang diskusi lintas keilmuan sekaligus memperluas pengetahuan sejarah Kalimantan Barat yang belum diketahui masyarakat untuk masa depan. Bahwa pelestarian sejarah tidak cukup hanya melalui peringatan tahunan, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk penerbitan buku, pembelajaran di sekolah, hingga produksi film sejarah. Langkah-langkah strategis ini penting agar esensi Peristiwa Mandor tetap hidup sebagai refleksi sosial sekaligus instrumen pembentukan karakter generasi penerus.
Peristiwa Mandor 1944 diposisikan sebagai guru kehidupan yang mengajarkan toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan penolakan mutlak terhadap segala bentuk kekerasan. Mengambil hikmah dari masa lalu adalah modal utama bagi masyarakat Kalimantan Barat untuk melangkah maju. Dengan merawat ingatan ini, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat bersinergi dalam membangun masa depan daerah yang aman, harmonis, inklusif, dan berkeadilan.
.jpg)

0 Comments