![]() |
| Ilustrasi milisi Amerika melawan tentara Inggris dalam Perang Revolusi Amerika 1776 (/www.studentsofhistory.com) |
Oleh: Abhinaya Rivariezto
Tahun ini Amerika Serikat memperingati 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan yang menandai lepasnya tiga belas koloni Inggris di Amerika Utara dari kekuasaan Inggris sekaligus menjadi tonggak lahirnya gagasan tentang kebebasan, persamaan hak, dan pemerintahan demokratis, yang kemudian menginspirasi berbagai gerakan kemerdekaan di dunia.
Menurut Julian Go dalam “Patterns of Empire: The British and American Empires, 1688 to the Present” menjelaskan sebelum menjadi negara merdeka, wilayah tersebut merupakan tiga belas koloni Inggris yang didirikan sejak tahun 1607 di sepanjang pesisir timur Amerika Utara. Masyarakat kolonial hidup dari pertanian, perdagangan, dan perikanan, serta membangun kota-kota pelabuhan yang ramai. Hubungan koloni dengan Inggris pada mulanya harmonis karena saling menguntungkan, namun mulai memburuk seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebijakan Inggris yang dianggap membatasi hak mereka.
Keretakan hubungan semakin nyata setelah Perang Tujuh Tahun (1756–1763) berakhir. Meski Inggris menang atas Prancis dan memperluas wilayahnya, kemenangan itu justru meninggalkan kas negara yang kosong. Sebagaimana yang dikatakan oleh Green (2020) dalam “United States: A Revolutionary History of American Statehood”, yakni untuk menutup hutang perang, Parlemen Inggris membebankan pajak baru kepada warga koloni dan memperketat jalur perdagangan, sebuah kebijakan yang memicu ketegangan baru antara London dan Amerika. Kebijakan pajak dimulai dari Sugar Act hingga Stamp Act, menimbulkan kemarahan luas di Tiga Belas Koloni karena diputuskan tanpa melibatkan perwakilan koloni di Parlemen. Dari sinilah muncul slogan "No Taxation Without Representation" yang menjadi simbol perlawanan ideologis masyarakat kolonial terhadap tirani Inggris.
Berdasarkan kajian oleh Peatman (2002) dalam “Coercion Gone Wrong: Colonial Response to the Boston Port Act”, aksi penolakan terhadap kebijakan Inggris mencapai puncaknya pada peristiwa Boston Tea Party yang terjadi pada 16 Desember 1773. Dalam peristiwa tersebut, kelompok Sons of Liberty menyamar sebagai penduduk asli Amerika-Suku Indian dan membuang ratusan peti teh ke Pelabuhan Boston sebagai protes terhadap monopoli perdagangan teh. Sebagai balasan, Inggris memberlakukan Coercive Acts (Intolerable Acts) yang menutup Pelabuhan Boston, membatasi pemerintahan Massachusetts, dan mewajibkan warga menampung tentara Inggris. Kebijakan tersebut justru memperkuat persatuan antarkoloni dan mendorong mereka untuk berjuang melawan Inggris.
![]() |
| Ilustrasi pertempuran di Perang Revolusi Amerika (vox.com) |
Menurut pendapat Raphael (2017) dalam "Lexington, Worcester, and the American Revolution: Debunking the Myth of the “Shot Heard 'Round the World.” Konflik bersenjata pertama terjadi pada 19 April 1775 dalam Pertempuran Lexington dan Concord di Massachusetts. Pertempuran ini ditandai dengan tembakan pertama yang kemudian dikenal sebagai "the shot heard 'round the world" karena dianggap sebagai awal Revolusi Amerika dan konflik berkembang menjadi perang kemerdekaan.
Terbentuknya Tentara Kontinental pada Juni 1775 menjadi strategi dalam menghadapi Inggris. Pasukan ini dipimpin oleh George Washington, seorang tokoh militer dari Virginia yang dikenal memiliki kemampuan kepemimpinan yang kuat. Pembentukan tentara nasional menjadi langkah penting karena mengubah berbagai kelompok milisi lokal menjadi satu kekuatan militer yang terorganisasi dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Puncak perjuangan tersebut ditandai dengan pengesahan United States Declaration of Independence pada 4 Juli 1776 yang disusun oleh Thomas Jefferson, dengan menegaskan gagasan hak asasi manusia (human rights) berupa kesetaraan, hak hidup, kebebasan, dan hak mengejar kebahagiaan (life, liberty, and the pursuit of happiness) sebagai prinsip dasar kemerdekaan Amerika. Sejalan dengan Nuriadi (2023) dalam “Highlighting Ideas of Human Rights: A Review of American Intellectuals’ Classic Writings”, gagasan tersebut mencerminkan pemikiran intelektual Amerika mengenai penghormatan terhadap martabat manusia dan hak-hak individu sebagai landasan kehidupan politik modern.
Keberhasilan revolusi tidak lepas dari kepemimpinan George Washington sebagai Panglima Tertinggi Tentara Kontinental, yang mampu menjaga moral pasukan meski kalah jumlah dan persenjataan. Benjamin Franklin berperan penting dalam meyakinkan negara-negara Eropa untuk mendukung perjuangan Amerika. Selain Washington dan Franklin, para Founding Fathers lain turut membentuk jalannya sejarah. John Adams menjadi motor politik di Kongres yang menyuarakan kemerdekaan, sementara Alexander Hamilton menyumbangkan pemikiran strategis di medan perang dan kelak meletakkan dasar sistem keuangan negara baru.
| Penandatanganan Declaration of Independence (Wikimedia) |
Titik balik perang terjadi setelah Perancis resmi menjadi sekutu Amerika pada 1778 berkat diplomasi Franklin, dengan dukungan dari Spanyol dan Belanda, yang mengubah konflik domestik menjadi perang global. Pada musim gugur 1781, pasukan gabungan Amerika-Perancis berhasil mengepung Yorktown sehingga Inggris diambang kekalahan. Pada 3 September 1783, perang resmi berakhir melalui Perjanjian Paris (Treaty of Paris), yang menegaskan bahwa Inggris mengakui Amerika Serikat serta menyerahkan wilayah hingga ke Sungai Mississippi kepada mereka.
Setelah memenangkan kemerdekaan, pada tahun 1787, para delegasi menyusun Konstitusi Amerika Serikat di Philadelphia, yang menciptakan sistem pemerintahan federal dengan pembagian kekuasaan (trias politica) untuk mencegah tirani baru, dan hingga kini menjadi konstitusi tertulis tertua yang masih berlaku. George Washington kemudian terpilih sebagai Presiden pertama Amerika Serikat pada 1789. Kepemimpinannya menetapkan demokrasi Amerika, termasuk tradisi transisi kekuasaan secara damai, pembentukan institusi federal, dan pengesahan Bill of Rights.
Peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli 2026 menjadi momen untuk merayakan sekaligus merefleksikan perjalanan negara tersebut dari tiga belas koloni menjadi salah satu negara adidaya dunia. Lebih dari sekadar pencapaian politik dan ekonomi, warisan terbesar Revolusi Amerika adalah penyebaran nilai kebebasan, demokrasi, dan hukum yang menginspirasi gerakan kemerdekaan di dunia, termasuk Revolusi Prancis dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini juga menegaskan bahwa perkembangan Amerika Serikat tetap memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan global.
---
Penyunting: M. Rikaz Prabowo


0 Comments