![]() |
| Koorprodi Pendidikan Sejarah Astrini Eka Putri memberikan sambutan sekaligus pembukaan International Guest Lecture, bersama Zhang Xinyue (tengah). (Dok. Abhinaya) |
Oleh: Abhinaya Rivariezhto
Departemen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tanjungpura menyelenggarakan kuliah internasional (International Guest Lecture) bertajuk “Towards a Modern China: Chinese Citizens’ Views on Conflict, War, & Revolution in 1912–1949” pada Jumat (23/10/2026) di Aula FKIP, dengan menghadirkan Zhang Xinyue dari Guangxi National University, Tiongkok, sebagai pembicara. Kegiatan ini membahas perspektif masyarakat Tiongkok terhadap konflik, perang, dan revolusi dalam sejarah modern Tiongkok, sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai perubahan politik dan sosial serta mendorong pertukaran pengetahuan dan perspektif akademik lintas budaya dan negara.
Kuliah Internasional ini dihadiri oleh mahasiswa dari angkatan 2025 sebagai bagian dari mata kuliah Sejarah Asia Timur. Kegiatan ini turut melibatkan tiga mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin, yakni Callista Shani, Sherin Cicilia, dan Pasya Ananta, yang bertugas sebagai interpreter untuk membantu penyampaian materi dan menjembatani komunikasi selama kuliah internasional berlangsung. Kolaborasi mahasiswa Pendidikan Sejarah dan Pendidikan Bahasa Mandarin menunjukkan sinergi antardisiplin ilmu dalam memperluas wawasan sejarah global sekaligus menjembatani komunikasi lintas bahasa dan budaya dalam kegiatan kuliah internasional.
Mohammad Rikaz Prabowo sebagai salah satu dosen pengampu mata kuliah memberikan pengantar mengenai kehadiran seorang pengajar tamu bernama Zhang Xinyue dari Guangxi National University yang akan mengajar bahasa Mandarin di Untan selama kurang lebih satu tahun. Beliau juga menyoroti sejarah Tiongkok pada periode 1912 hingga 1949, dan mengatakan bahwa Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok pada awal tahun 1950 hingga dibekukan pada tahun 1967-1990 karena dinamika politik saat itu.
Sedang Astrini Eka Putri selaku koordinator program studi memberikan sambutan pembuka yang hangat dalam kuliah tamu internasional. Beliau menyampaikan apresiasi dan selamat datang kepada narasumber, Zhang Xinyue dari Guangxi National University, serta terima kasih kepada para mahasiswa dan interpreter Mandarin atas dukungan mereka. Melalui sambutan tersebut, beliau menekankan pentingnya mengeksplorasi perspektif beragam mengenai sejarah Asia Timur dan Historiografi khususnya transformasi sosial dan politik di Tiongkok pada tahun 1912 hingga 1949.
![]() |
| Zhang Xinyue memberikan materi perkuliahan (Dok. Abhinaya Rivariezhto) |
Zhang Xinyue memaparkan materi mengenai perjalanan sejarah Tiongkok pra-modern pada rentang tahun 1912 hingga 1949, yang diwarnai oleh berbagai krisis internal maupun eksternal. Pembahasan tersebut mencakup runtuhnya Dinasti Qing akibat tekanan asing dan masalah internal seperti kemiskinan petani, hingga lahirnya Republik Tiongkok di bawah kepemimpinan Presiden Sun Yat-sen. Selain itu, materi ini menyoroti dinamika politik yang rumit, termasuk era kekuasaan panglima perang (warlord), pergolakan budaya, serta berbagai peristiwa penting seperti Gerakan 4 Mei dan Perang Tiongkok-Jepang.
Lebih lanjut, materi tersebut juga mengupas persaingan serta kerja sama antara dua kekuatan besar di Tiongkok saat itu, yakni Partai Nasionalis (Kuomintang) dan Partai Komunis Tiongkok. Perjuangan panjang melawan penjajahan asing serta konflik internal yang berujung pada perang saudara akhirnya mencapai titik balik ketika Republik Rakyat Tiongkok resmi berdiri pada tahun 1949. Melalui pemaparan ini, ditekankan bahwa pandangan serta keterlibatan warga Tiongkok mulai dari kalangan pelajar, buruh, petani, hingga kaum intelektual memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk arah masa depan dan sistem politik negara Tiongkok modern.
Diskusi setelah penyampaian materi menyoroti pentingnya periode sejarah modern Tiongkok 1912–1949 sebagai pembelajaran dari pengalaman konflik, perang, kekalahan, dan perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa. Pembahasan juga mengulas persaingan Kuomintang (KMT) dan Partai Komunis Tiongkok (PKT), termasuk dukungan masyarakat petani terhadap PKT melalui kebijakan redistribusi tanah. Selain itu, kebangkitan Tiongkok dibahas dalam kaitannya dengan visi bersama dan perencanaan strategis jangka panjang untuk membangun kembali negara, memperbaiki pendidikan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Nailsya Putri Maghfira selaku mahasiswa, menyatakan bahwa kuliah internasional terasa sangat menarik mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan dan merasa sangat antusias. Kehadiran pemateri dari luar negeri memberikan kesan yang unik dan menarik baginya. Menjadi sarana pembelajaran sejarah sekaligus pertukaran wawasan lintas budaya bagi mahasiswa. Melalui kuliah ini diperoleh perspektif baru mengenai dinamika sejarah modern Tiongkok dan relevansinya dalam memahami perubahan politik serta sosial suatu bangsa. Antusiasme mahasiswa selama kegiatan berlangsung diharapkan dapat mendorong pengembangan wawasan sejarah global dan memperkuat kerja sama akademik lintas disiplin di lingkungan Universitas Tanjungpura.


0 Comments