ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Kearifan Lokal Masyarakat Teluk Pakedai dalam Penyajian Kuliner di Bulan Puasa & Hari Raya

Sajian saprahan masyarakat di Teluk Pakedai saat hari raya Idul Fitri (Dok. Gunawan)

 


Oleh: Gunawan, Guru Bahasa Indonesia dan Penggiat Literasi

 

Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tidak hanya dipandang sebagai perhelatan keagamaan tahunan oleh masyarakat Teluk Pakedai, namun juga sebagai momentum memperkuat nilai keberasamaan dan melestarikan tradisi salah satunya pada budaya kuliner.

Kuliner sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat merepresentasikan relasi erat antara tradisi, identitas budaya, dan ketahanan pangan. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki sajian kuliner khas. Kuliner ini berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari sekaligus hadir dalam konteks ritual, perayaan keagamaan, dan praktik sosial tertentu. Menurut Rahman (2018) dalam tulisannya berjudul Kuliner Sebagai Identitas Keindonesiaan, kuliner hadir sebagai simbol yang menunjukkan bagaimana bangsa memposisikan makanan sebagai bagian dari identitas.

Masyarakat Teluk Pakedai di Kabupaten Kubu Raya secara demografis didominasi oleh suku Bugis. Namun menurut Rafi’i dkk (2026) dalam tulisannya mengenai tradisi leluhur orang Teluk Pakedai, juga terdapat suku Melayu, Banjar, Dayak, serta transmigrasi Jawa dan Madura yang bermukim disana sejak lama. Bahkan ada yang sebelum era kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dominasi ini pada akhirnya menghadirkan kekhasan tersendiri dalam praktik penyajian kuliner, khususnya pada bulan Ramadan. Sajian kuliner yang dihadirkan merupakan hasil percampuran tradisi ketiga suku bangsa yakni Bugis, Melayu, dan Banjar yang kemudian disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta kearifan lokal masyarakat Teluk Pakedai. Akulturasi ini melahirkan ragam kuliner yang bervariatif dan mencerminkan identitas kolektif masyarakat setempat.

Bulan Ramadan menjadi momentum penting dalam praktik kebudayaan kuliner masyarakat Teluk Pakedai. Penyajian makanan berbuka puasa tidak semata-mata ditujukan untuk konsumsi keluarga. Sajian kuliner berbuka puasa menjadi sarana memperkuat relasi sosial antarwarga. Makanan yang disiapkan akan dibagikan kepada tetangga dan penerima makanan tersebut pada kesempatan yang sama akan membalas dengan memberikan sajian makanan yang dibuat. Praktik saling berbagi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadikan menu berbuka puasa semakin beragam.

Tradisi berbagi makanan saat berbuka puasa memiliki makna sosial dan edukatif, terutama bagi anak-anak. Praktik ini menghadirkan kegembiraan menjelang waktu berbuka sekaligus menumbuhkan semangat berpuasa serta memperkenalkan nilai kebersamaan sejak usia dini. Dengan demikian, kuliner Ramadan di Teluk Pakedai berfungsi sebagai medium pewarisan nilai-nilai budaya dan keagamaan.

Makan bersama dalam tradisi saprahan pada masjid-masjid di Teluk Pakedai (Dok. Gunawan) 

Dalam pelaksanaannya, pembuatan kue dan makanan berbuka umumnya dilakukan oleh orang tua, sedangkan anak-anak bertugas mengantarkan makanan tersebut kepada tetangga. Meskipun tidak diatur secara tertulis, pembagian peran ini telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Bahkan, menjelang datangnya bulan Ramadan, anak-anak sudah mempersiapkan diri untuk menjalankan peran mereka sebagai pengantar makanan.

Praktik berbagi makanan biasanya mulai dilakukan pada hari ketiga puasa. Hal ini disebabkan oleh keseragaman menu berbuka pada hari pertama dan kedua Ramadan. Pada hari pertama, masyarakat Teluk Pakedai umumnya berbuka puasa dengan kue bingke atau bingka’ dalam penyebutan masyarakat lokal Teluk Pakedai, sedangkan pada hari kedua menu berbuka didominasi oleh kue yang terbuat dari pisang seperti pisang goreng, pengat pisang, dan srikaya pisang. Walaupun demikian, dalam praktiknya, pisang goreng lebih sering disajikan saat berbuka puasa pada hari kedua. Kesamaan menu tersebut membuat tradisi berbagi makanan belum dilaksanakan. Mulai hari ketiga dan seterusnya, ragam kuliner semakin bervariasi dan praktik berbagi pun dilakukan secara rutin.

Adapun jenis kuliner yang umum disajikan saat berbuka puasa di Teluk Pakedai antara lain lepat pisang, lepat ubi, obor-obor, jorong, busa laot, tri salat, jade (juade) talam, jade kote, tar, putri lilen, beloho’, tepong kusoi, dan sanggara wae. Penamaan kue atau kuliner tersebut menurut penelitian Gunawan dkk (2024) mengenai tradisi Peno-peno pada suku Bugis di Kubu Raya, berdasarkan pelafalan masyarakat lokal disana. Beberapa sajian di atas memiliki penamaan berbeda di tempat lain seperti di Pontianak.

Sementara hasil wawancara dengan Nurisa dan Ria Purnama Sari (16 Februari 2026) sajian kuliner khas yang muncul saat bulan puasa di antaranya berbagai jenis sebagai berikut:

Bingka’ (bingka’ tepung, bingka’ berendam, bingka’ ubi larat, bingka’ pisang, bingka’ labu, dan bingka’ kebeng), pisang goreng, srikaya pisang, stop pisang, lepat pisang, pengat pisang, polisi dikerumut semot (istilah yang digunakan untuk pisang goreng yang dilumuri kental manis), jempot-jempot, senggera’ wae, obor-obor, tar, trisalat, trililin, juade kacang,  sri pandan, juade talam, tepong kusoi/tepong kusot, busa laot, jorong, beloho’, madu kandes, klepon, doko’-doko’, epo’-epo-, gamat-gamat, ati pari, bubur pulut hitam, putri mandi, bubur anya’, cendol, juade kote, bom, ubi guyuk (kentang goyang ubi), bubur nasi, dan tumpi-tumpi.

Kue Tumpi-tumpi, yang hanya muncul saat bulan Ramadan di Teluk Pakedai (Dok. Gunawan)


Sajian-sajian tersebut menjadi kuliner khas ramadan yang kerap dibagikan kepada tetangga. Menurut Ibrahim (2020) dalam tulisannya berjudul Cerita-cerita Pantang Larang di Teluk Pakedai, penyajian makanan dalam konteks budaya, termasuk penyajian kuliner pada bulan puasa merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun secara berulang-ulang. Bahkan, bagi sebagian masyarakat, hal tersebut menjadi sebuah keharusan.

Sajian berbagai kuliner pada bulan puasa juga melahirkan sebuah tradisi di tengah masyarakat Teluk Pakedai yang dikenal dengan sebutan siara, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Siara merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kegiatan mendatangi rumah keluarga, kerabat, atau warga lain untuk menyantap sajian kuliner yang masih tersisa setelah berbuka puasa.

Tradisi ini biasanya dimulai setelah masyarakat berbuka puasa dan menunaikan salat Magrib. Setelah itu, mereka bersiap berangkat menuju masjid untuk melaksanakan salat Isya dan tarawih. Dalam perjalanan menuju masjid, mereka singgah terlebih dahulu ke rumah keluarga atau warga yang masih memiliki sisa hidangan berbuka puasa. Di tempat tersebut, mereka menyantap makanan secara bersama-sama. Bagi tuan rumah, kehadiran para tamu justru menghadirkan rasa senang karena hidangan yang telah disiapkan tidak terbuang sia-sia. Tradisi siara umumnya dilakukan sebelum salat Isya, meskipun dalam beberapa kesempatan juga berlangsung setelah masyarakat pulang dari masjid, yakni setelah melaksanakan salat tarawih. Dalam praktiknya, kegiatan ini didominasi oleh anak-anak dan remaja, meskipun tidak jarang pula diikuti oleh orang dewasa, sehingga siara menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Teluk Pakedai selama bulan Ramadan.

Kudapan 'bloho' dengan bahan tepung beras dan air gula merah, sajian ini hanya tersedia saat bulan Ramadan di Teluk Pakedai (Dok. Gunawan)

Selain tradisi siara, masyarakat Teluk Pakedai juga memiliki kebiasaan menyajikan kuliner dalam bentuk minuman selama bulan Ramadan. Minuman tersebut umumnya digunakan sebagai hidangan berbuka puasa. Pada dasarnya, jenis minuman yang disajikan tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di daerah lain, seperti teh es, sirup, air kelapa, es blewah atau dalam bahasa lokal disebut melewah, susu, kopi, dan kopi susu. Meskipun demikian, terdapat praktik menarik dalam tradisi penyajian minuman ini, yaitu kebiasaan membawanya ke masjid untuk dinikmati bersama. Setiap rumah biasanya telah memiliki jadwal secara bergiliran untuk menyiapkan minuman yang akan dibawa ke masjid menjelang pelaksanaan salat Isya dan tarawih. Setelah salat tarawih selesai, jemaah biasanya duduk bersama di teras masjid untuk menikmati minuman tersebut. Dalam beberapa kesempatan, ada pula warga yang membawa air serbat, yang dalam bahasa lokal dikenal sebagai air pengusir. Minuman-minuman tersebut kemudian dinikmati secara bersama-sama oleh jemaah sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing setelah gelas yang disajikan telah habis diminum.

Relasi antara Islam dan kebudayaan lokal di Teluk Pakedai tidak hanya tercermin dalam praktik berbuka puasa, tetapi juga dalam pelaksanaan tradisi behatam. Penelitian penulis mengenai Bentuk, Pemerintahan, dan Ekosistem Kebudayaan Bugis di Teluk Pakedai (2025), menjelaskan bahwa tradisi behatam merupakan istilah lokal dari prosesi khatamul Al-Qur’an yang berkembang di tengah masyarakat Teluk Pakedai.  Tradisi ini dilaksanakan di hampir seluruh masjid di Teluk Pakedai selama bulan Ramadan.

Pelaksanaan behatam di masjid umumnya dilakukan dua kali dalam sebulan, yaitu behatam pertama dan behatam kedua. Pembagian ini didasarkan pada fase malam di bulan Ramadan serta makna religius yang menyertainya. Behatam pertama dilaksanakan pada sepuluh malam kedua bulan Ramadan. Sebagai contoh, Masjid Jamiatul Muslimin di Parit Guru H. Amin melaksanakan behatam pada malam keenam belas, sedangkan Masjid Nurul Islam di Parit Siakop pada malam ketujuh belas. Dalam pelaksanaannya, jamaah dari masing-masing masjid saling mengundang satu sama lain sebagai bentuk penguatan solidaritas dan ukhuwah antarumat.

Sementara itu, behatam kedua dilaksanakan pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yaitu antara malam kedua puluh satu hingga malam kedua puluh sembilan. Dibandingkan dengan behatam pertama, pelaksanaan behatam kedua cenderung lebih besar skalanya karena melibatkan lebih banyak masjid. Selain itu, jadwal pelaksanaannya umumnya telah ditetapkan sejak lama sehingga partisipasi jamaah dapat terkoordinasi dengan lebih baik. Secara simbolik, behatam pertama dimaknai sebagai peringatan malam Nuzulul Qur’an, sedangkan behatam kedua bertujuan untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan yang dalam istilah lokal dikenal sebagai malam selekor. Hingga saat ini, tradisi behatam pada sepuluh malam terakhir masih terus dipertahankan. Sebaliknya, pelaksanaan behatam pada sepuluh malam kedua mulai jarang dilakukan.

Tradisi takbiran menyambut Idul Fitri di Teluk Pakedai dengan berbagai kulinernya (Dok. Gunawan)

Dalam praktiknya, tradisi behatam tidak hanya berfokus pada pembacaan Al-Qur’an tetapi juga diiringi dengan penyajian kuliner. Masyarakat berlomba-lomba menyajikan makanan terbaik sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang hadir. Sajian kuliner tersebut umumnya berupa makanan berat yang disusun dalam ceper atau nampan. Jenis makanan yang sering dihidangkan antara lain ayam masak kecap, ayam masak rempah, ayam opor, udang sambal, udang goreng, ikan goreng, berbagai jenis acar ikan (belana, sembelang, belukang, gulame), pindang serani ikan belana, pacri nanas, sop kentang, rendang daging, timur kacang tanah, serta terong rempah. Tidak semua jenis makanan disajikan dalam satu ceper. Masing-masing keluarga menyesuaikan dengan kemampuan dan ukuran ceper yang digunakan. Sementara itu, nasi biasanya disiapkan oleh pihak masjid atau dimasak secara bersama-sama.

Sajian kuliner tersebut disantap bersama setelah pembacaan Qur’an, rangkaian doa, dan zikir selesai dilaksanakan. Jemaah akan duduk bersaf di dalam masjid dan ceper diletakkan di tengah saf di atas kain putih panjang yang dibentangkan sebelumnya. Tradisi makan bersama ini dikenal dengan istilah saprahan. Penelitian Yusriadi (2019) mengungkapkan bahwa saprahan adalah makan bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan saling menghadap hidangan. Kekhasan saprahan di Teluk Pakedai terletak pada fleksibilitas jumlah orang yang menyantap hidangan dalam satu. Umumnya disantap oleh dua hingga tiga orang serta penggunaan kain putih sebagai alas yang menjadi identitas lokal. Tradisi ini tidak hanya dilakukan saat behatam, tetapi juga pada berbagai acara adat seperti pernikahan.

Kekhasan kuliner masyarakat Teluk Pakedai pada bulan Ramadan dan hari raya juga tampak pada penyajian patlau atau pa’lau dalam bahasa lokal. Makanan ini menjadi ciri khas yang selalu hadir saat Idulfitri, biasanya disajikan bersama ketupat dan pulut panggang. Ketiga hidangan tersebut menjadi ikon kuliner masyarakat Teluk Pakedai saat lebaran. Sajian ini dihidangkan saat kegiatan takbiran keliling dan setiap rumah membuka pintu bagi warga yang melintas serta menyuguhkan pa’lau, pulut panggang, dan ketupat dengan berbagai lauk, seperti rendang, sambal udang, ayam masak santan, dan ikan acar.  Dalam praktiknya, pa’lau disajikan dengan campuran gula merah, santan, dan telur. Dalam tradisi masyarakat setempat, sajian kuliner ini juga dikenal dengan sebutan pelopo’.

Ciri khas pa’lau Teluk Pakedai dibandingkan dengan daerah lain terletak pada proses pembuatannya. Masyarakat Teluk Pakedai mengenal dua jenis pa’lau, yaitu pa’lau pulut putih dan pa’lau pulut hitam, tanpa campuran kacang. Selain itu, pa’lau buatan masyarakat Bugis di Teluk Pakedai dikenal lebih tahan lama karena direbus dalam waktu yang cukup panjang, yakni sekitar tujuh hingga delapan jam, bahkan hingga sepuluh jam. Berdasarkan hasil wawancara dengan Nurisa (16 Februari 2026), pa’lau buatannya dapat bertahan hingga sekitar 14 hari. Pengetahuan mengenai ketahanan makanan ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat dalam mengolah dan menyajikan pangan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Pa’lau tidak hanya disajikan pada malam takbiran, tetapi juga setelah pelaksanaan Salat idul fitri dan idul adha. Pada momen tersebut, masyarakat Teluk Pakedai akan menyantap pa’lau, ketupat, pulut panggang, dan berbagai lauk pauk secara bersama-sama di teras masjid sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur.


Redaktur: M. Rikaz P

Post a Comment

0 Comments