![]() |
| Potret KH. Ghalib. Sumber: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pringsewu |
Oleh: Wahyu Agil Permana, Sejarawan Lampung
Masyarakat Pringsewu mengenal K.H Ghalib lebih dari sekedar ulama, tidak hanya berjasa bagi syiar Islam, namun juga turut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan dianugerahi Pahlawan Lampung.
Pendidikan memiliki berbagai peran penting dalam menunjang kehidupan individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Salah satu peran pendidikan yakni sebagai tempat untuk membentuk sumber daya manusia menjadi berkarakter dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Dalam khazanah Islam, terdapat adagium yang mewajibkan setiap manusia untuk menuntut ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat. Ungkapan ini menegaskan bahwa pendidikan dan pencarian ilmu merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia.
Di sinilah peran ulama menjadi sangat sentral. Mereka bukan hanya sekadar menyiarkan ajaran Islam, tetapi juga menjadi pencerah umat. Dengan ilmu dan keteladanan, para ulama menuntun masyarakat menuju kehidupan yang lebih beradab dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Salah satu ulama yang meneladani peran tersebut adalah KH. Ghalib. Ia memiliki jasa yang besar dalam mengembangkan pendidikan Islam khususnya di Pringsewu, Lampung. Tak hanya itu, perjuangannya dalam menentang kolonialisme Belanda juga membuat dirinya kelak dikenang sebagai Pahlawan Lampung.
KH. Ghalib lahir di Mojosantren, Krian, Jawa Timur pada Tahun 1899. Ia dilahirkan dari pasangan Kiai Rokhani dan Nyai Muksiti. Pada usia tujuh tahun, KH. Ghalib diserahkan oleh ibunya kepada kiai di kampungnya untuk belajar ilmu agama. Dari kiai tersebut, KH. Ghalib mendapat pelajaran kajian Al Qur’an, ilmu fiqih, tauhid, akhlak, dan ilmu agama lainnya.
KH. Ghalib, kata Permana dalam From Pesantren to Nation: KH. Ghalib’s Contribution to Islamic Education in Pringsewu, memang sejak muda sudah senang mengembara ke berbagai pesantren untuk belajar ilmu agama. Tetapi, yang berkesan bagi KH. Ghalib adalah Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, tempat ia berguru kepada Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam pengembaraannya itu, KH. Ghalib tidak hanya mempelajari ilmu ubudiyah saja, tetapi juga mempelajari ilmu hikmah. “Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil yang signifikan. Dengan bekal keilmuan itulah, KH. Ghalib memulai perjalanannya untuk menyiarkan ajaran Islam ke berbagai kota,” tulis Permana.
Jejak Diaspora Menabur Ilmu
![]() |
| Rumah K.H Ghalib (Sumber: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pringsewu) |
KH. Ghalib memulai perjalanan dakwahnya ke berbagai daerah,
mulai dari Jawa Timur, Semarang, Sumatera Utara, Malaysia, Kalimantan, hingga
Singapura. Pada Tahun 1927, di Singapura, ia bertemu dengan Anwar Sanpawiro,
seorang keturunan Jawa asal Pagelaran, Pringsewu, Lampung. Singkat cerita,
pertemuan ini membuat KH. Ghalib tertarik untuk hijrah ke Lampung.
Ngadiman dalam Peranan
Kiai Haji Ghalib dalam Penyebaran Agama Islam, menjelaskan setelah KH.
Ghalib tiba di Lampung, ia tinggal sementara di rumah Sanpawiro sebelum
akhirnya membeli tanah di Pajaresuk. Di sana, KH. Ghalib tinggal tak terlalu
lama, ia kemudian memutuskan untuk pindah ke Pringsewu. Di tempat itu, KH.
Ghalib kemudian mendirikan tempat tinggal dan masjid yang kelak menjadi titik
awal kiprahnya dalam menyiarkan ajaran Islam.
Pada saat KH. Ghalib di Pringsewu, kondisi masyarakat masih
jauh dari ajaran Islam. Kebiasaan mabuk, berjudi, dan perilaku negatif lainnya
masih menjadi hal yang lumrah dilakukan. KH. Ghalib yang merasa prihatin
tergugah hatinya untuk mengajarkan nilai-nilai Islam. Ia memulai dakwahnya
dengan mendirikan masjid yang merupakan masjid pertama di Pringsewu. Upayanya
itu membuahkan hasil. Perlahan, masyarakat mulai menerima ajarannya.
“Hubungannya dengan masyarakat setempat kian simpatis dan harmonis. Musababnya,
ada kesamaan budaya dan etnis antara dirinya dengan warga setempat yang
mayoritas keturunan Jawa,” catat Restiana dalam Perkembangan Pondok Pesantren KH. Ghalib Pringsewu.
Dengan adanya masjid tersebut, suasana religius mulai
tercipta di kalangan penduduk setempat. KH. Ghalib pun mulai membangun
pesantren. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi para santri yang datang agar
dapat bermukim dan belajar di sana. Pondok pesantrennya itu kemudian dikenal
dengan nama Pondok Pesantren Bambu Seribu. Tak lama kemudian, setelah menyadari
bahwa pesantren memiliki peran yang sangat efektif sebagai sarana dalam
menyebarkan ajaran Islam, KH. Ghalib lantas mendirikan Madrasah Salafiyah, dengan
menggunakan sistem sorogan dan hafalan sebagai kurikulum pendidikan.
KH. Ghalib, seperti disebut Rosadi dalam Peran KH. Ghalib dalam Pendidikan Islam di
Pringsewu, dikenal memiliki sikap kemandirian dan kepribadian yang loyal.
Ia membiayai seluruh kebutuhan pesantren dengan biaya yang dihasilkan dari
usaha-usaha yang dimilikinya. Bahkan, tak jarang KH. Ghalib justru
menggratiskan biaya pendidikan dan menanggung semua kebutuhan para pengajar.
“Lambat laun, pesantren dan madrasah yang didirikan olehnya berkembang pesat.
Semakin lama, santrinya semakin banyak. Para santri yang datang pun tak hanya
berasal dari dalam daerah saja, tetapi juga dari luar daerah, seperti Jambi,
Palembang, Bengkulu, hingga Banten,” ujar Rosadi.
Gugur
Ditembus Peluru Belanda
Selain dikenal sebagai ulama, KH. Ghalib juga merupakan
pejuang kemerdekaan yang dikenal anti kolonial. Pada masa revolusi Indonesia,
spirit perjuangannya turut ditularkan kepada santrinya. Banyak di antara mereka
kemudian bergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Seperti yang jamak
diketahui, menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada Perang Dunia II membuka jalan
bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, Belanda melalui Nederlandsch Indische Civil Administration (NICA)
segera datang ke Indonesia dengan maksud untuk merebut kembali kekuasaannya.
Upaya tersebut terukir pada Agresi Militer I dan II yang turut menyasar
berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Lampung.
Menurut Dewan Harian Angkatan 45 Provinsi Lampung dalam Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Lampung,
Belanda mulai masuk menyisir Lampung pada saat Agresi Militer ke-II, yang
menyebabkan Tentara Republik Indonesia (TRI) harus menarik mundur pasukannya ke
daerah-daerah pedalaman, salah satunya Pringsewu. Di sana, para tentara
menjadikan Pondok Pesantren Bambu Seribu sebagai markas perjuangan. KH. Ghalib
dipercaya menjadi komandan pasukan gerilya bersama tokoh lain, seperti Kapten
Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Mayor Effendi.

Makam K.H Ghalib di Pringsewu Lampung (Sumber: newslampungterkini.com)
Menjelang akhir Tahun 1948, KH. Ghalib dan pasukannya
terlibat pertempuran sengit melawan Belanda di Baturaja dan Martapura, yang
menyebabkan banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Hingga memasuki awal
1949, situasi mulai melunak. Namun, pasukan Belanda terus bergerak. Mendengar
kabar bahwa Belanda mulai merambah ke Gading Rejo, KH. Ghalib memerintahkan
pasukannya untuk menghancurkan jembatan Way Bulok guna menghambat pergerakan
Belanda. “Namun Belanda tak kehabisan akal, mereka menggunakan jalur alternatif
melalui Gedong Tataan lalu menuju Pagelaran hingga sampai ke Pringsewu,” catat
Effendi dalam Gema Perang Rakyat di
Sumatera Selatan 1945-1949.
Karena situasi yang semakin berbahaya, KH. Ghalib bersama
pasukannya mengungsi ke hutan. Selama dalam persembunyiannya, Belanda merusak
dan menjarah Pondok Pesantren Bambu Seribu. Hingga suatu ketika, KH. Ghalib
memutuskan kembali ke pesantren untuk melaksanakan salat Idul Fitri.
Kepulangannya ke pesantren tersebut juga disebabkan oleh kondisi kesehatannya
yang mulai menurun dan sempat menderita sakit. Namun, kabar kepulangannya itu
dengan cepat sampai ke telinga Belanda. Tanpa berlama-lama, Belanda segera menangkap
pendiri Pondok Pesantren Bambu Seribu itu. Mereka kemudian membawa KH. Ghalib
ke markasnya yang berlokasi di Gereja Katolik Pringsewu dan menyekapnya selama
lima belas hari.
Dewan Harian Angkatan 45 Provinsi Lampung dalam Untaian Bunga Rampai Perjuangan di Lampung mengungkapkan pembebasan KH. Ghalib baru dilakukan pada 6 November 1949. Nahasnya, pembebasan tersebut justru menjadi jalan sunyinya menuju keabadian. Baru 10 meter berjalan dari gereja, rentetan peluru dilepaskan ke arahnya. Putra pertiwi yang gagah perkasa itu pun seketika jatuh terkapar.
KH. Ghalib wafat di usianya yang ke-50 tahun. Ia dimakamkan di dekat pesantrennya, di tanah yang ia wakafkan semasa hidup. Atas jasanya itu, pada Tahun 1992, KH. Ghalib mendapatkan penganugerahan oleh Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Provinsi Lampung sebagai Pahlawan Lampung. Namanya pun turut diabadikan sebagai nama jalan di Pringsewu.
Hingga kini, makam KH. Ghalib sering dikunjungi para
peziarah dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari luar negeri. Mereka datang
tidak hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk mengenang jasa-jasanya dalam
menyebarkan ajaran Islam dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


0 Comments