ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Wayang Simpang, Warisan Budaya yang Terancam Hilang di Tanah Kayong


Wayang Kulit Simpang koleksi Agus Puhun di Simpang Hilir, Kayong Utara
(Dok. Miftahul Huda)

Oleh: Miftahul Huda, Tim Ahli Cagar Budaya Kab. Kayong Utara

Wayang Simpang atau Wayang Kulit Simpang adalah kesenian yang dikenal sejak ratusan tahun silam di beberapa daerah yang dahulu menjadi wilayah Kerajaan Tanjungpura. Diduga kedatangan kesenian wayang ini erat kaitannya dengan masuknya putra Majapahit ke Tanjungpura pertama kali pada abad ke-14. Kelestarian wayang ini terancam karena minimnya penerus dan perhatian oleh pemerintah.

Saat ini Wayang kulit yang masih lengkap ada di Simpang Hilir, dan lazim disebut sebagai Wayang Simpang.  Sementara lainnya tersebar pula di beberapa tempat seperti di Matan dan Sukadana.

Wujud ataupun bentuk dari wayang kulit khas Simpang ini masih utuh dalam satu kotak yang di simpan oleh keturunan dalang bernama Agus Puhun asal Desa Batu Barat Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara.  Secara fisik wayang kulit Simpang tampak berbeda dengan Wayang kulit Jawa. Berukuran lebih kecil dengan corak dan nama tokoh yang berbeda jika dibandingkan dengan wayang kulit di Jawa.

Menurut keterangan dari Agus Puhun, yang merupakan generasi ke enam dari pemegang Wayang Simpang ini menceritakan silsilahnya dari awal. Wayang tersebut mula-mula dipegang oleh seorang dalang yang bernama Irapati, kemudian Niti Praja, kemudian Singa Nenggala, Datok Dute Nenggala, lalu menurunkan ke anaknya bernama Dalang Wak Jage bergelar Irenenggala. Kemudian diturunkan kembali ke anaknya bernama Dalang Anis Kunang, lanjut ke anaknya yang bernama Uning Imbang, hingga berlalu ke Agus Itek. Dari Agus Itek yang merupakan mertuanya itulah wayang kulit ini Agus Puhun warisi.

Menurutnya tradisi kesenian wayang di Simpang, sudah ada sejak masa Kerajaan Matan. Dirinya menduga sebelum dalang Datok Dute, sudah ada yang mendahului (menjadi dalang). Namun ia tidak mengetahui nama aslinya melainkan berdasarkan ingatan gelarnya saja.

Wayang Simpang dari sisi musik berbeda dengan wayang Jawa. Keterlibatan tim musik lebih sedikit, sebab hanya terdiri dari dalang yang dibantu oleh pembantunya yang disebut Pebayu, kemudian penabuh gendang, pemain piul (biola), pemain rebab, dan pemain kenong serta dua pemain tetawak (gong).

Uniknya pada saat memainkan Wayang Kulit Simpang ini sang dalang adalah orang Melayu, namun ketika memainkannya ia bisa berbahasa Jawa bahkan Jawa kuno yang sulit dimengerti. Padahal dalam kesehariannya ia tidak bisa berbahasa Jawa, hal ini disebut oleh Agus Puhun karena fenomena mistis ‘Masuk Syeh’, atau dengan kata lain dirasuki makhluk halus.

Dalam proses Masuk Syeh tersebut sang Dalang tidak sadar akan apa yang dilakukan, termasuk dalam memainkan wayang dengan bahasa Jawa. Namun anehnya ketika sudah sadar kembali, seperti biasa tidak bisa berbahasa Jawa.

Menurut Pesah, putri dari dalang (Agus Etek) yang juga istri dari  Agus Puhun, jika ingin menjadi dalang harus melakukan sebuah ritual yang lazim disebut sebagai beramal. Ritual dalam beramal tersebut antara lain; puasa, memakan nasi putih selama 7 hari tanpa lauk pauk, menyendiri atau bertapa, dan amalan-amalan lainnya.


Jenis Wayang Simpang

Agus Puhun, dalang Wayang Simpang dan istrinya 
(Dok. Miftahul Huda)

Berdasarkan penuturan narasumber yakni Pesah (keturunan dari Agus Etek) dan Haripin yang telah berusia 95 tahun (personil pemain gendang wayang Simpang yang masih hidup), ia menuturkan dua jenis permainan Wayang Simpang berdasarkan peruntukannya, yaitu:

Wayang Gedog

Wayang gedog menurut Haripin tidak bisa sembarangan dimainkan oleh semua dalang. Dalang pemula belum bisa memainkannya karena bernuansa mistik. Wayang Gedog diperuntukan khusus  sebagai ritual yang lazim digunakan di masyarakat, seperti dalam acara pernikahan. Jika pada masa kerajaan, sering digunakan dalam berbagai ritual kerajaan.

Tradisi permainan Wayang Gedog untuk ritual pernikahan ini disebut Majang, yang dilakukan selama tiga hari tiga malam atau semalam suntuk tergantung kemampuan penyelenggara hajatan. Dalam pertunjukan wayang ritual itu para penonton terutama kedua mempelai tidak boleh melewatkan pertunjukan wayang hingga selesai.

Dalang yang sering memainkan Wayang Gedog ini menurut Haripin juga biasanya menjadi tetua adat atau dukun kampung setempat. Wayang Gedog di Jawa lebih dikenal dengan nama Wayang Panji karena  ceritanya diadaptasi dari serat Panji. Konon Wayang Gedog ini diciptakan oleh Girindrawardhana pada tahun 1485 di masa Kerajaan Majapahit .

Untuk nama nama tokoh wayang simpang yang masih ada dalam ingatan Pesah dan Agus Puhun sebagai pemegang wayang saat ini adalah, si Pateh, Denok, Turas, Pandji, dan Kediri. Sedangkan nama nama tokoh wayang yang lain ia sudah tidak ingat lagi, sebab terakhir  pertunjukan wayang Simpang tersebut  dimainkan pada tahun 1990-an. Sehingga dengan rentang waktu yang lama tersebut ia sulit untuk mengingatnya kembali.

Wayang Golek

Wayang Golek yang di maksud dalam tradisi Simpang adalah wayang untuk pertunjukan.  Wayang pertunjukan ini dilakukan  untuk memenuhi kebutuhan hiburan. Bisa saja  niat orang mengundang wayang pertunjukan ini untuk hajatan acara pernikahan, khitanan ataupun yang lainnya.

Jika di Jawa Wayang Golek yang di maksud adalah wayang sejenis orang dan terbuat dari kayu, namun dalam tradisi simpang Wayang Golek memiliki fisik yang sama dengan Wayang Gedog yakni wayang kulit biasa. Hanya perbedaannya adalah nama tokoh serta peruntukannya yang berbeda.

Di Jawa pertama kali wayang ini diperkenalkan oleh Sunan Kudus untuk mensyiarkan Islam melalui budaya di daerah Kudus (dikenal Wayang Menak), Cirebon (dikenal Wayang Cepak) lalu Parahyangan. Diduga dari perkembangan wayang generasi kedua setelah wayang gedog tersebut juga menyebar ke beberapa daerah dan ikut mempengaruhi perkembangan wayang di Simpang. Semula wayang hanya dijadikan sarana ritual namun sudah berubah menjadi pertunjukan untuk kebutuhan hiburan dan maksud lainnya.


Sejarah Wayang Simpang

Diduga pada masa kerajaan, kesenian Wayang juga biasa dimainkan di dalam keraton sebab  persebaran wayang dari Jawa ke Tanah Borneo berawal dari hubungan antar kerajaan. Jika melihat dari jenis Wayang yang ada saat ini serta cara memainkannya, kemungkinan besar wayang  tersebut masuk sejak zaman Majapahit khususnya di Tanjungpura, Sukadana, Matan dan Simpang. 

Dalam perkembangan berikutnya di masa Islam, yakni Kerajaan Demak Bintoro dan Mataram yang juga masih berhubungan, Wayang di tanah Borneo khususnya Simpang memiliki warna yang berbeda. Dugaan lain tentang awal mula persebaran Wayang Simpang  selain dari hubungan  politik antar kerajaan  juga melalui perdagangan serta pernikahan atau pembauran antara orang pendatang dengan masyarakat setempat.

Kedua teori tentang masuknya wayang di tanah borneo itu sama-sama memiliki alasan yang kuat, sebab keduanya saling mempengaruhi dan berkaitan. Berdasarkan data yang di dapat dari catatan Von De wall  dalam buku Matan, Simpang, Soekadana, de Karimata-Einlanden en Koeboe (1862) wayang juga sering diperdagangkan dan masuk di dalam daftar perdagangan di bandar Sukadana, Matan dan Kerajaan Simpang pada masa itu. 

Penonton wayang kulit di Kerajaan simpang berada di belakang kelir (layar) sehingga yang ditonton adalah bayangan wayang tersebut. Berbeda dengan wayang kulit Jawa yang langsung ditonton dari atas panggung.

Pada masa perkembanganya wayang kulit Simpang mengadaptasi cerita-cerita lokal, namun dalam masa ini sulit untuk melacak lakon atau cerita cerita lokal yang pernah di bawakan pada masa itu. Hal ini karena pelestari atau dalang utamanya saat ini sudah tidak ada lagi, adapun yang masih ada hanya tersisa pemain gendang yakni Haripin 95 Tahun. Oleh karena usianya sudah sangat tua, maka ia sulit mengingat semua kejadian di masa ia menjadi bagian dari tim pemain wayang.

Cerita wayang kulit Simpang kemudian beradaptasi dan menjadi seni pertunjukan khas. Memiliki perbedaan dengan wayang kulit Jawa baik dari segi bentuk wayang, lagu gamelan pengiring, adapun cara memainkannya. Wayang Simpang akhirnya memiliki nilai dan karakter tersendiri.


Wayang Simpang Menurut Catatan PJP Barth 1892 

Manuskrip Wayang Simpang dalam Overzicht der Afdeeling Soekadana (1896) karya P.J.P Barth


Menurut catatan dari P.J.P. Barth yang datang ke Borneo pada tahun 1892, ia menuliskan dalam buku Overzicht der Afdeeling Soekadana (1896) bahwa seni Wayang sudah mulai tumbuh dan berkembang di Kerajaan Tanjungpura era Sukadana,  yang dimainkan dan banyak dimiliki oleh Orang Boekit.

Orang Boekit ini adalah penduduk yang khas dan unik dari populasi yang ada di Sukadana kuno era Tanjungpura. Menurut Barth mereka adalah campuran dari orang Melayu dan Dayak serta Jawa yang sudah beragama Islam.

Pada umumnya orang bukit adalah petani dan pekebun. Mereka dahulunya menetap di lereng Pegunungan Palongan (Gunung Palung), lalu kemudian bergeser ke wilayah Matan dan Simpang seperti Tjali (Cali), Bajangan (Bayangan), Djagan, dan Rempangi (Bayur Rempangi), Koman, Munggoe'-Djering (Mungguk Jering sekarang Matan) dan sekitarnya. Rata rata dari tiap kelompok mereka memiliki wayang (P.J.P. Barth, 1892).

Pada masa perpindahan Orang Boekit tersebut, di Sukadana wayang sudah tidak ada lagi namun di Simpang dan Matan pada saat itu pertunjukan wayang masih sering dilakukan, tulis Barth. Pada masa itu menurut Barth, Sebelum permainan wayang dilakukan, ada beberapa ritual atau syarat tertentu yang harus dilakukan. Di antaranya adalah membuat sesajen yang di sebut "ancak".

Keprak  (keprok) dari Wayang Simpang terbuat dari kayu lipat, yang digantung di bagian luar peti wayang. Pada saat tertentu setelah dalang berkisah atau di sela sela kisahnya ia memukul keprak dengan kaki. Di antara semua tokoh wayang tersebut ada enam yang biasa dimainkan oleh dalang, yang disebut sebagai  “wayang agal.”  Sedangkan yang lainnya, berjumlah delapan puluh buah tokoh. Perbedaan nama dalam tokoh wayang Jawa dengan  wayang Simpang  ada nama tokoh Ratoe Tjandra Kirana, Nala  dan tokoh Semar, pada wayang simpang disebut sebagai  denok, tokoh Garèng  di  disebut Toeras, kemudian ada Patih dari Radja Gelang dan lain lainnya.

Bahasa dalam pertunjukan wayang simpang pada masa itu adalah bahasa Jawa yang sulit dikenal dengan dimainkan tanpa sadar. Diidentifikasi oleh Barth pada masa itu bahwa bahasa wayang tersebut tampaknya  adalah bahasa Jawa kuno, hanya ada beberapa kata dan ungkapan yang berhasil ditangkap dan pahami  di antara adalah : diparan, kakang ingsoen, kakang mas, di oendang mréné, déwa, réntjang 'ndika, Radja Brakmana, Koela noewoen sénapati, anak ingsoen, bëtjik, banjoe, kaoela (= kula), sampéjan, gelëm, ora gelëm, wong lanang, noewoen kakang totemënggoeng, sapa, dèrèng, wis késah (PJP Barth, 1892).


Wayang Simpang Saat Ini

Wayang kulit Simpang  dalam masa perkembanganya, seperti banyak saksi hidup yang pernah melihat langsung pertunjukan wayang Simpang yang pada tahun 1990-an. Menurut Agus Puhun yang memegang keturunan wayang, cerita atau lakon yang diangkat adalah kisah lokal dan sang dalang bisa juga menyesuaikan nama tokoh wayang tersebut dengan era modern. Paling dekat bisa berkisah tentang cerita sejarah Kerajaan Matan, Simpang atau Tanjungpura bahkan era kolonial Belanda. 

Konteks improvisasi lakon atau cerita wayang semacam ini dimungkinkan digunakan sang dalang hanya dalam pertunjukan pada masyarakat umum sebagai nilai hiburan. Bukan untuk pertunjukan wayang guna ritual tertentu yang memiliki syarat atau pakem yang berat. Maka dimungkinkan dari sisi ini, wayang Simpang masih bisa dihidupkan kembali. Walaupun sang dalang sudah tidak ada lagi, namun dapat dipelajari dari bagaimana cara pada masa lampau melalui manuskrip serta cerita tutur.

Jikalau tidak ada lagi dalang yang mampu menggunakan wayang untuk sisi ritual, namun Wayang Simpang dari sisi budaya dan pertunjukan masih ada peluang untuk kembali dilestarikan pada generasi masa depan agar tidak sirna begitu saja di telan zaman. Sebab Wayang Simpang  memiliki ciri khas yang tidak sama dengan wayang yang lain, kekhasan ini yang menjadi identitas  serta nilai jual yang tidak dimiliki oleh wayang di daerah manapun.


Redaktur: Zulkifli Abdillah 

Post a Comment

0 Comments