ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Jejak Tionghoa dalam Sejarah di Batang Tarang, Sanggau

Pasar Lama di Batang Tarang (Ha Poi)


Oleh: Vinsensius


Ketika berbicara tentang masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat, perhatian biasanya tertuju pada Singkawang atau Pontianak. Padahal, jauh di pedalaman Kabupaten Sanggau, terdapat pula komunitas Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama beberapa generasi. Salah satunya berada di Batang Tarang, yang kini menjadi pusat Kecamatan Balai.

Keberadaan mereka mungkin tidak banyak tercatat dalam buku sejarah. Namun, jejaknya masih dapat ditemukan melalui bahasa, bangunan, makam leluhur, dan ingatan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tulisan ini mencoba menelusuri sebagian dari jejak tersebut melalui sejarah lisan dan beberapa sumber yang membahas perkembangan masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat.

Pasar dan Awal Kehadiran Masyarakat Tionghoa

Pasar Baru Batang Tarang (Song Poi) (Dok. Vinsensius)


Tidak mudah menentukan kapan masyarakat Tionghoa pertama kali datang ke Batang Tarang. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelompok Hakka atau Khek telah hadir di Kalimantan Barat sejak berabad-abad lalu dan menyebar ke berbagai wilayah melalui jalur perdagangan serta sungai. Diperkirakan antara abad ke-17 hingga ke-18 M seiring munculnya konsesi tambang emas di sekitar Landak (Mandor). 

Sanggau yang berada di sepanjang aliran Sungai Kapuas sejak lama menjadi bagian dari jaringan perdagangan penting di Kalimantan Barat. Melalui jalur inilah berbagai kelompok masyarakat saling berhubungan, termasuk para pedagang Tionghoa yang kemudian menetap di sejumlah kawasan pedalaman.

Dalam ingatan masyarakat Batang Tarang, keluarga-keluarga Tionghoa telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi setempat. Mereka membuka berbagai macam usaha dan jasa. Aktivitas tersebut berkembang terutama di kawasan pasar yang menjadi pusat pertemuan masyarakat Dayak, Melayu, dan Tionghoa. 

Salah satu kawasan yang masih dikenal hingga sekarang adalah Pasar Hilir atau yang oleh sebagian warga disebut “Gang Meleset”. Kawasan ini pernah menjadi tempat bermukim sejumlah keluarga Tionghoa sekaligus pusat aktivitas perdagangan masyarakat Batang Tarang.

Gang Meleset: jalan menuju ke Pasar Hilir, tempat pemukiman orang Tionghoa di Batang Tarang (Dok. Vinsensius)




Pekong, Sekolah Cina, dan Makam Leluhur

Pekong di Batang Tarang (Dok. Vinsensius)


Jejak keberadaan masyarakat Tionghoa di Batang Tarang tidak hanya terlihat melalui aktivitas ekonomi, tetapi juga melalui peninggalan budaya yang masih dikenal masyarakat. Salah satunya adalah pekong tua yang berada di kawasan Pasar Hilir. Bangunan tersebut masih dikenal dan digunakan oleh sebagian masyarakat untuk bersembahyang. Walaupun belum diketahui secara pasti kapan pekong itu dibangun (karena keterbatasan sumber), keberadaannya menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa telah hadir cukup lama di daerah tersebut.

Selain pekong masyarakat juga masih mengingat keberadaan Sekolah Cina yang pernah berdiri di kawasan pasar. Bangunannya kini sudah tidak ada lagi, tetapi ingatan tentang sekolah tersebut masih hidup pada sebagian warga. Bagi masyarakat Tionghoa pada masa itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai sarana mempertahankan bahasa dan budaya leluhur. Menurut saksi mata Tjung Nyan Tho (75 tahun), Sekolah Cina ini masih eksis hingga tahun 1960an. Pasca meletusnya Peristiwa G30S 1965 sekolah ini terdampak dan kehilangan pamornya hingga akhirnya harus ditutup.

Peninggal Sekolah Cina berada di sekitar rumah di seberang sungai (Dok. Vinsensius)


Jejak lain yang masih dapat ditemukan adalah makam-makam tua bertulisan Cina yang tersebar di beberapa lokasi sekitar Batang Tarang. Sebagian makam memiliki bentuk khas yang berbeda dengan makam pada umumnya. Keberadaan makam tersebut menjadi salah satu bukti bahwa komunitas Tionghoa telah lama menjadi bagian dari sejarah daerah ini. Hingga saat ini, penulis belum berhasil mengidentifikasi tahun tertua yang tercantum pada makam-makam tersebut karena sebagian sudah tidak terawat dan belum dilakukan pendokumentasian secara menyeluruh. Namun berdasarkan bentuk makam, keberadaan patung penjaga, dan kondisi situs yang telah lama ditinggalkan, beberapa makam diduga berasal dari akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. 

Makam Cina di Batang Tarang (Sumber: Google Map)



Bahasa, Tradisi, dan Kehidupan Bersama

Di antara berbagai warisan yang masih tersisa, Bahasa Khek merupakan salah satu yang paling hidup. Pada dekade 1990-an, bahasa ini masih sering terdengar di rumah-rumah masyarakat Tionghoa maupun di kawasan pasar. Menariknya, sebagian masyarakat Dayak yang sering berinteraksi dengan warga Tionghoa juga memahami beberapa kosakata Khek. Menunjukkan betapa kuatnya interaksi dan keharmonisan warga Dayak dengan penduduk asli. 

Kehidupan pasar menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Banyak warga Dayak datang ke Batang Tarang untuk menjual karet, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hasil kebun lainnya. Di tempat yang sama mereka membeli kebutuhan sehari-hari dari toko-toko milik masyarakat Tionghoa. Interaksi yang berlangsung terus-menerus menciptakan hubungan sosial yang erat di antara mereka.

Selain bahasa, berbagai tradisi Tionghoa juga masih dikenal masyarakat. Perayaan Imlek, pembagian angpao, kue keranjang, sembahyang kubur, dan penghormatan kepada leluhur pernah menjadi bagian yang akrab dalam kehidupan masyarakat Batang Tarang. Sebagian warga juga masih mengingat kertas merah bertulisan Cina yang ditempel di pintu rumah-rumah Tionghoa serta koran berbahasa Mandarin yang dahulu dibaca oleh generasi tua.

Walaupun banyak anggota komunitas Tionghoa kemudian memeluk agama Katolik, Kristen, atau Buddha, sebagian tradisi budaya tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas keluarga dan penghormatan kepada leluhur.


Menjadi Bagian dari Sejarah Batang Tarang

Tugu Bambu Runcing: Ikon Batang Tarang (Dok. Vinsensius)


Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui secara pasti kapan orang Tionghoa pertama kali datang ke Batang Tarang. Namun, berbagai jejak yang masih dapat ditemukan menunjukkan bahwa mereka bukanlah bagian yang terpisah dari sejarah daerah ini.

Pekong tua, cerita tentang sekolah Cina, makam-makam leluhur, Bahasa Khek, dan kehidupan pasar merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat Batang Tarang. Melalui jejak-jejak tersebut, kita dapat melihat bagaimana masyarakat Dayak, Melayu, dan Tionghoa hidup berdampingan serta membangun kehidupan bersama di pedalaman Sanggau.

Karena itu, sejarah masyarakat Tionghoa di Batang Tarang bukan hanya sejarah satu komunitas. Ia merupakan bagian dari sejarah Batang Tarang itu sendiri—sejarah tentang perjumpaan budaya, kerja sama ekonomi, dan kehidupan bersama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.


Tentang Penulis

Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, dan penulis yang lahir di Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Minat utamanya meliputi sejarah lokal, budaya masyarakat Kalimantan Barat, serta hubungan antar komunitas yang membentuk kehidupan sosial di daerah pedalaman. Ia percaya bahwa banyak kisah penting tersimpan dalam ingatan masyarakat dan layak didokumentasikan sebagai bagian dari sejarah Indonesia.


Bahan Bacaan

Hermansyah dkk. (2022). Studi Batang Tarang Kalimantan Barat

Isep Ruslan dkk. (2024). Kearifan Lokal di Sanggau

Wang Tai Peng (1984). The Origins of Chinese Kongsi with Special Reference to West Borneo

Fangchao Ji (2023). The Chinese Kongsis in West Borneo: The Rise of the Chinese in Global Trade in the Early and Mid-19th Century

Mary Somers Heidhues (1993). Chinese Organizations in West Borneo and Bangka: Kongsis and Hui

Wawancara sejarah Lisan dengan Tjung Nyan Tho (75 tahun) dari Batang Tarang (2026). 


Post a Comment

0 Comments