![]() |
Lukisan yang menggambarkan Ternate dan Tidore sebagai salah satu bandar rempah di kawasan timur Indonesia (Sumber: A.A.J Payen, Museum Wereldculturen) |
Oleh: Nadya Muliandari
Perjalanan cengkih jadi rempah warisan Nusantara yang mengundang bangsa barat untuk melakukan monopoli dan kolonisasi.
Aroma cengkih mengalun dari pucuk-pucuk kering berwarna cokelat gelap, menembus udara dengan kehangatan yang membelai indera. Ada manis yang lembut, ada pedas yang menggigit, dan di sela-selanya, bisik kayu dan bunga yang berpadu menjadi wangi abadi. Baunya seolah membawa angin dari pesisir Maluku, menuntun ingatan pada perahu-perahu layar yang pernah berlayar jauh demi sejumput rempah ini. Setiap hembusnya adalah kisah, setiap wanginya adalah sejarah yang tak pernah pudar.
Sejak abad pertengahan, rempah menjadi komoditas mewah di Eropa yang bernilai tinggi karena digunakan sebagai bumbu, pengawet makanan, obat-obatan, dan simbol status sosial serta awal mula lahirnya ekonomi kapitalis modern. Loius Denissa dalam tulisannya yang berjudul Pala dan Cengkeh diantara Jejak Sejarah, Batik dan Identitas (2022) menyebutkan bahwa cengkih sangat mahsyur dan menjadi primadona di Indonesia mulai abad ke-15 M ketika bangsa Eropa datang ke Indonesia. Musababnya cengkih menjadi primadona dalam arus dagang rempah dunia kala itu. Namun jauh sebelum itu, jaringan dagang rempah di Indonesia telah dijalankan oleh beberapa etnis seperti Jawa, Melayu dan Makassar.
Kerap disebut The Spice Island atau Pulau Rempah, sejak berabad-abad lalu Kepulauan Maluku jadi pionir tanaman cengkih di Nusantara. Letusan Gunung Gamalama di Ternate dan Gunung Kie Matubu di Tidore menghasilkan abu vulkanik yang kaya mineral untuk tanah. Tanah ini, berpadu dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, menciptakan lingkungan sempurna bagi tumbuhnya pohon cengkih. Orang-orang setempat percaya, pohon cengkih adalah anugerah langsung dari gunung. Dibalik keindahan keduanya, disitulah tempat dimana cengkih terbaik lahir, dibesarkan oleh tanah api dan dihembus angin laut.
![]() |
| Benteng Belgica di Pulau Banda, jejak kolonialisme VOC (asset.kompas.com) |
Pulau Ternate dan Tidore sohor dikenal menjadi penghasil cengkih terbaik dunia. Cengkih telah menjadi komoditi rempah termahal di pasar dagang internasional bahkan setara dengan emas. Ragam khasiat cengkih telah menyilaukan beberapa bangsa untuk memilikinya seperti Cina, India, Timur Tengah, dan Eropa. Pada abad ke-14 hingga 15 M, pedagang Arab dan Cina sudah rutin datang ke Ternate dan Tidore untuk mendapatkan rempah ini, lalu membawanya ribuan kilometer jauhnya melalui Jalur Sutra Laut.
Pulau penghasil emas hijau itu akhirnya sampai ke telinga bangsa Eropa. Awal mula bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris memulai pelayaran adalah untuk menguasai rempah Indonesia termasuk tanaman cengkih. Portugis menjadi yang pertama tiba pada tahun 1512 dengan membangun aliansi politik bersama Kesultanan Ternate. Sedangkan Spanyol merangkul Tidore untuk memonopoli cengkih. Akhirnya, Ternate dan Tidore dikuasai oleh dua kubu berbeda dari Eropa. Namun ironisnya, kekayaan ini membawa kemakmuran bagi penjajah, tapi kesengsaraan dan kemiskinan dan penindasan berkepanjangan bagi masyarakat Maluku.
Tulisan Syahruddin Mansyur berjudul Perdagangan Cengkih Masa Kolonial dan Jejak Pengaruhnya di Kepulauan Lease (2013) menyebutkan bahwa persatuan Perusahaan Hindia Timur (dalam bahasa Belanda: Vereenigde Oost-Indische Compagnie disingkat VOC) yang didirikan pada 20 Maret 1602 melakukan dagang serta monopoli dengan membuat kebijakan Hongi Tochten (patroli laut untuk memusnahkan pohon cengkih liar di luar wilayah yang ditentukan) dan Extirpatie (pemusnahan tanaman di daerah yang tidak diinginkan). Tujuannya agar bangsa Eropa dapat mengontrol produksi dan harga rempah sehingga cengkih berada pada harga tinggi di pasar Eropa. Perdagangan rempah yang terkonsentrasi di tangan VOC menjadi salah satu fondasi pertumbuhan kapitalisme di Eropa. Keuntungan besar dari monopoli rempah digunakan untuk membiayai ekspansi dagang, membangun infrastruktur pelayaran, dan memperkuat sistem perbankan di beberapa negara Eropa.
Imbasnya, perdagangan rempah yang mulanya dilakukan masyarakat Maluku akhirnya terhenti. Eksploitasi yang berlebihan, penindasan tenaga kerja pribumi serta kontrol produksi cengkih yang sangat ketat menghasilkan perekonomian rakyat merosot dan mengalir untuk bangsa Eropa. Perdagangan bebas yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan terhenti, dan ekonomi rakyat merosot tajam. Selain itu, kebijakan pemusnahan pohon mengakibatkan hilangnya sebagian besar kebun cengkih lokal yang menjadi sumber penghidupan warga.
Memasuki abad ke-19, sistem monopoli VOC runtuh. Meskipun dengan kebijakan yang lebih longgar, namun pemerintah kolonial Hindia Belanda tetap menerapkan kontrol terhadap perdagangan cengkih. Perdagangan mulai terbuka, tetapi dominasi pihak kolonial dalam melakukan kebijakan pengawasan seperti penentuan harga dan jalur distribusi tetap kuat. Cengkih tetap menjadi jantung ekonomi dan komoditas strategis hingga awal abad ke-20 khususnya di Ternate dan Tidore. Seorang tokoh Ternate bernama Sultan Baabullah mengembalikan kedaulatan Ternate, dan membuat para pedagang Eropa gentar. Cengkih tetap menjadi denyut nadi kekuasaan, tetapi kini wangi itu juga membawa pesan tentang kebebasan dan harga diri.
Kini meski zaman telah berganti, setiap musim panen cengkih dikaki Gamalama dan Kie Matubu tetap sama seperti ratusan tahun lalu. Wangi hangatnya mengalir diudara seolah gunung-gunung itu berbisik. Keduanya bak mengingatkan bahwa dari sinilah, dipelukan tanah vulkanik, kisah besar rempah dunia bermula. Walaupun pada akhirnya pohon cengkih menyebar ke berbagai penjuru dunia, kedua pulau ini tetap dikenang sebagai pusat awal perjalanan rempah yang membentuk jalannya sejarah global.
---
Penyunting: Rikaz


0 Comments