ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Peringati Hari Kebudayaan, Penggiat Sejarah Gotong Royong di Masjid Jami' Pontianak

Peserta gotong royong peringatan hari kebudayaan di Pontianak (17/10)
(Dok. Abhinaya)

Oleh: Abhinaya Rivarieztho


Kota Pontianak memiliki berbagai peninggalan bersejarah yang menjadi bagian penting dari identitas dan perkembangan kebudayaan Kalimantan Barat. Salah satunya adalah Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman yang terletak di Kampung Masjid, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang mencerminkan perjalanan Kota Pontianak, sehingga keberadaan dan kelestariannya perlu terus dijaga. 

Dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan 2026, Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Kalimantan Barat menggelar Aksi Pemeliharaan Cagar Budaya pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 07.00–10.00 WIB, melalui kegiatan bersih-bersih di Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap warisan budaya sekaligus upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat peninggalan sejarah agar tetap terjaga, dikenal, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dalam acara bersih-bersih Masjid, para peserta yang hadir sekitar 30-an orang. Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan komunitas, yaitu Komunitas Wisata Sejarah (KUWAS), dan Clubpon. BP Kebudayaan juga mengundang beberapa duta kebudayaan dan mahasiswa dari Universitas Tanjungpura, dan Universitas PGRI Pontianak. Dengan berbedanya beberapa instansi, hal ini dapat memperkuat gotong royong antar sesama yang menjadi warisan kebudayaan leluhur bangsa yang masih dipertahankan.

Sebelum acara bersih-bersih Masjid Jami dimulai, Juliadi selaku Kepala BP Kebudayaan Kalimantan Barat menyampaikan terkait Hari Kebudayaan 2026. Hari Kebudayaan di tahun ini menjadi yang kedua tepat pada 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162/M/2025. Peringatan ini dimaksudkan untuk memperkuat identitas nasional dan mendorong pelindungan serta pelestarian kebudayaan.

Setelah itu, Khofifah Nur Rahmah dari KUWAS juga menjelaskan sedikit sejarah Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurahman. Ia menjelaskan awalnya Masjid Sultan Syarif AbdurahmaN ini berbentuk sebuah surau sederhana (langgar) di masa Sultan pertama. Barulah pada masa kepemimpinan Syarif Usman, masjid ini direnovasi besar-besaran dari surau hingga menjadi masjid besar.

Kegiatan ini dimulai dengan pembagian tugas dan peralatan bersih-bersih, di mana peserta harus membersihkan halaman masjid beserta selokan pembuangan. Peserta menyapu halaman masjid yang dipenuhi sampah daun-daun dan selokan yang dipenuhi sampah, sehingga menyebabkan penyumbatan yang mengharuskan mereka memungut sampah. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk menjaga kebersihan masjid, tetapi juga agar identitas kenyamanan cagar budaya ini terjaga dan tidak mengalami kerusakan lingkungan yang merugikan bangunan tersebut.

Panji selaku panitia menjelaskan bahwa Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak dipilih dalam rangkaian Hari Kebudayaan karena tingginya tingkat kunjungan masyarakat ke masjid tersebut. Selain itu, kawasan depan masjid ramai oleh aktivitas UMKM pada sore hingga malam hari serta memiliki halaman yang sangat luas, sehingga dikhawatirkan banyak sampah yang menumpuk dan memerlukan pemeliharaan kebersihan.

Pembersihan di area taman Masjid Jami'
(Dok. Abhinaya)

Gotong Royong

Selain membersihkan masjid baik bagi yang muslim, bagi non-muslim yang membantu membersihkan masjid merupakan bentuk dari toleransi antarumat beragama dan perbedaan. Muslim dan non-Muslim juga bergotong royong untuk menjaga identitas bangunan ini dimasa mendatang. Sifat toleransi dan gotong royong ini juga menjadi bagian dari kebudayaan leluhur yang masih dijaga. Selain untuk mempertahankan keberlangsungan cagar budaya masjid ini, tetapi memperkuat identitas bangsa melalui warisan budaya hingga generasi mendatang.

Syarif Ahmad Al-Mutahar selaku Pengurus Masjid Jami' menilai kegiatan bersih-bersih lingkungan masjid dan halaman yang diadakan oleh BP Kebudayaan Kalimantan Barat sebagai kegiatan yang sangat bagus dan bentuk kepedulian budaya yang positif dalam rangka Hari Kebudayaan. Walaupun ada perbedaan dari segala hal, beliau merasa bersyukur dan senang melihat penanganan masalah kepengurusan yang beres serta pembersihan lingkungan masjid yang dilakukan dengan baik.

Rama Kirana dari BP Kebudayaan juga menyampaikan bahwa aksi bersih-bersih masjid dalam perayaan Hari Kebudayaan 2026 merupakan bentuk upaya pemeliharaan cagar budaya yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta keterlibatan masyarakat sekitar dalam menjaga peninggalan bersejarah. Melalui kegiatan pembersihan situs bersejarah seperti Masjid Jami' Kesultanan Pontianak, masyarakat diajak untuk memelihara dan melestarikan cagar budaya yang menjadi ikon identitas penting bagi Kota Pontianak.

Aksi Pemeliharaan Cagar Budaya Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan masjid, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, toleransi antarumat beragama, dan kepedulian terhadap cagar budaya. Dengan harapan tumbuh kesadaran bersama bahwa pelestarian bangunan bersejarah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pengelola, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat agar nilai sejarah, budaya, dan identitas Kota Pontianak tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

---

Post a Comment

0 Comments