![]() |
| Seseorang mengangkat bunga Rafflesia, Aceh, 1916 (KITLV) |
Oleh: Nadya Muliandari
Pesona dan polemik penamaan bunga raksasa Rafflesia arnoldi hingga jadi julukan salah satu provinsi di Pulau Sumatra
“Bumi Rafflesia” telah lama melekat sebagai identitas Provinsi Bengkulu. Musababnya hutan tropis Sumatra khususnya di Bengkulu jadi habitat yang cocok bagi bunga bangkai dari genus Rafflesia itu. Rafflesia memiliki diameter hingga 110 cm dengan tinggi 50 cm dengan bau busuk yang khas ketika mekar. Keunikan bunga langka terbesar didunia itu jadi pemikat beberapa tokoh Inggris untuk menjadi satu-satunya penemu dari bunga langka terbesar di dunia tersebut.
Penemuan dan penamaan bunga bangkai raksasa ini memiliki sejarah tersendiri bagi beberapa tokoh Inggris pada abad 18. Eksplorasi bunga ini mulanya dilakukan oleh seorang penjelajah berkewarganegaraan Prancis bernama Louis Auguste Deschamp yang melakukan ekspedisi ragam tumbuhan di Pulau Jawa. Bunga langka ini awalnya ia temukan di Pulau Nusakambangan, Jawa tengah sekitar tahun 1797. Pada 1803, ketika Deschamp pulang ke Prancis dengan seluruh koleksi hasil penjelajahannya itu, kapal yang ia tumpangi ditangkap oleh Angkatan Laut Inggris (British Navy) dan seluruh koleksinya direnggut oleh Inggris. Salah satu hasil koleksinya merupakan bunga besar yang unik yang akhirnya menjadi bahan kompetisi bagi para ahli botani Inggris.
![]() |
| Ilustrasi mengenai perkembangan Rafflesia Arnoldi (KITLV) |
Berselang 20 tahun, seorang penjelajah alam bernama Joseph Arnold pada 1818 menemukan bunga itu pertama kali ketika menyusuri Sungai Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan tepatnya di daerah Pulo Lebbar. Malangnya, Arnold meninggal akibat malaria selama ekspedisi tersebut. Seorang penjelajah alam bernama William Jack diutus oleh Thomas Stamford Bingley Raffles yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris untuk menggantikan Arnold dalam identifikasi tumbuhan tersebut.
Pada April 1820, buah pikir William Jack itu menghasilkan sebuah artikel yang dikirimkan ke London dengan memberikan nama bunga tersebut sebagai Rafflesia titan. Akibat publikasi yang terlambat, nama Rafflesia titan tidak digunakan menjadi nama tumbuhan tersebut. Sayangnya, seorang warga Inggris bernama Robert Brown mengambil alih penemuan itu dan menulis artikel berjudul “An Account of A New Genus of Plants, Named Rafflesia” serta berpidato terkait penemuan tumbuhan tersebut pada pertemuan Linnean Society of London pada Juni 1820. Hasilnya, Inggris menamakan tumbuhan jenis baru itu dengan spesies Rafflesia arnoldii R.Br yang merupakan apresiasi untuk menghormati Thomas Stamford Bingley Raffles, Joseph Arnold serta Robert Brown. Pada akhirnya nama Rafflesia titan tidak digunakan sebagai nama untuk jenis baru melainkan dianggap serupa dengan nama Rafflesia arnoldii. Pada 1825 atau lima tahun berselang setelah penamaan itu, bunga yang ditemukan oleh Deschamp pada 1797 di Nusakambangan dinamakan dengan nama Rafflesia patma oleh Direktur Kebun Raya Bogor, C.L. Blume pada saat itu.
Rafflesia ditemukan pada hutan hujan tropis di Indonesia (Kalimantan, Sumatera, Jawa), Malaysia, Thailand dan Filipina. Puspa langka ini terancam punah dan hanya ditemukan pada habitat tertentu diseluruh dunia. Saat ini terdapat 25 jenis marga Rafflesia dan 12 diantaranya tumbuh di Indonesia. Bunga ini merupakan holoparasit dan tidak memiliki akar, batang serta daun serta hidupnya sangat bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma. Selain karena sangat langka, tumbuhan ini sulit diperbanyak dengan rekayasa manusia serta spesimen keringnya sulit untuk diawetkan. Bunga Rafflesia mulai mekar pada tengah malam dan memiliki masa mekar sekitar 5-9 hari dan biasa tumbuh pada akar atau batang tumbuhan inang. Selama periode itu, bau busuk mulai keluar dari kelopaknya sehingga menarik lalat untuk datang. Hewan tersebut berperan sebagai polinator dari bunga Rafflesia. Setelah mekar, bunga akan membusuk dengan sendirinya.


0 Comments