ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Mahasiswa Untan Hadirkan Museum Temporer di SDN 14 Pontianak

Pengunjung memperhatikan koleksi surat kabar era kolonial yang terbit di
Kalimantan Barat di Museum Temporer SDN 14, 24/5. 

Oleh: Abhinaya Rivariezto


Hari Jumat 22 Mei 2026, menjadi hari pertama diselenggarakannya perhelatan ‘Museum Temporer Surat Kabar & Pameran Foto Jadul: Jejak Waktu di Sudut Kota’. Kegiatan ini merupakan kolaborasi mahasiswa sebagai tugas akhir mata kuliah Museologi dan Sejarah Desa Kota. Melibatkan kerjasama mahasiswa angkatan 2023 dan 2024 berkekuatan kurang lebih 50 mahasiswa. Kegiatan yang diselenggarakan di SDN 14 Pontianak Kota ini menghadirkan konsep museum temporer yang mengangkat koleksi-koleksi surat kabar pra-kemerdekaan yang pernah terbit di Kalimantan Barat. Berikut hasil tangkapan lensa kamera para fotografer terdahulu yang mengabadikan potret di kota seperti Pontianak dan Singkawang.

Melalui kegiatan ini, pengunjung diajak menyusuri perubahan sosial, budaya, dan ruang kota dari masa ke masa. Foto-foto yang ditampilkan menjadi saksi kehidupan perkembangan Pontianak dan Singkawang dari masa ke masa, sementara arsip surat kabar seperti koran, iklan, dan pengumuman memberikan gambaran narasi peristiwa masa lalu yang pernah terjadi dan membentuk identitas kota hingga saat ini. 

Saputra yang berperan sebagai tenaga edukator museum merasa sangat senang adanya kegiatan ini. “Kita bisa membagikan cerita pengalaman sejarah. Disini memamerkan surat kabar dan foto kota Pontianak dan Singkawang zaman dahulu. Bukan hanya sekadar gambar tapi ada cerita dan makna dibaliknya. Nah, jadi disini kita ingin memberitahukan bahwa dari potongan gambar itu banyak hal yang bisa diambil, mulai dari bagaimana kondisi orang saat itu, kemudian perkembangan apa saja yang terjadi di masa itu” ujarnya.

Foto Kunjungan tamu berkeliling untuk melihat surat kabar dan foto lama pada pameran museum kontemporer (Dokumentasi oleh Pitri)


Pemilihan SDN 14 Pontianak Kota sebagai tempat kegiatan juga dirasa tepat. Sebab bangunan sekolah ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Pontianak. Sekolah ini dahulunya ialah bekas Hollandsch Inlandsch School (HIS) yang telah eksis sejak 1920an. Selain itu, pihak sekolah sendiri memang mengalihfungsikan salah satu kelasnya sebagai ruang pameran yang menyimpan alat-alat penunjang pendidikan pada zaman dahulu. Diantaranya meja kursi kayu, OHP, mesin stensil, sempoa, mesin tik, hingga pesawat telepon kabel. 

Kegiatan ini dibuka untuk umum dan dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat. Salah satu pengunjung Nada Novarhein Pramana yang merupakan siswa SMAN 10 Pontianak museum ini sangat menginspirasi dan menambah perspektif serta insight baru. Menjembatani keingintahuannya tentang sejarah dan perkembangan kota Pontianak. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ahmad Ilmi Hidayat, pelajar SMA Negeri 1 Sungai Raya yang menurutnya perlu untuk lebih memberikan perhatian kepada bangunan cagar budaya di sekitar. 

Foto Bu Astrini menjadi pemateri seminar bertema digitalisasi cagar budaya (Dokumentasi oleh Pitri)


Selain adanya museum temporer dan pameran foto jadul, secara berturut-turut selama tiga hari kegiatan ini juga diisi oleh diskusi dengan topik-topik yang terkait. Pada hari pertama tanggal 22 Mei 2026, pemaparan dari Astrini Eka Putri selaku dosen Pendidikan Sejarah Untan yang mengangkat tema tentang ‘Digitalisasi Cagar Budaya’. Menurutnya digitalisasi cagar budaya menjadi bagian dari pelestarian dan pengembangan serta pemanfaatan cagar budaya. Salah satunya dapat dimanfaatkan oleh guru sejarah untuk mengajar. Digitalisasi juga dinilai sebagai bentuk menjaga warisan bangsa karena memungkinkan peninggalan sejarah tetap terdokumentasi dan dapat diakses, meskipun tidak seluruhnya tersimpan di museum. 

Foto Nursalim Yadi Anugerah menjadi pemateri seminar bertema Perbandingan Museum Seni Kebudayaan dari Berbagai Negara (Dokumentasi oleh Abhinaya Revariezhto)


Pada hari kedua tanggal 23 Mei 2026 diskusi mengenai “Perbandingan Museum Seni dan Kebudayaan dari Berbagai Negara” dibawakan oleh Nursalim Yadi Anugerah. Seorang komponis dan musisi yang kerap hadir pada residensi seni di berbagai negara Eropa dan Amerika. Momentum residensi mancanegara itulah yang juga digunakan beliau untuk menyambangi museum seni dan kebudayaan di negara tersebut. Bahkan beberapa perhelatan musik yang ia tampil juga diselenggarakan di museum seni. Menurutnya museum berperan sebagai ruang edukasi yang menghubungkan budaya dan sejarah lintas negara, tidak sekadar tempat penyimpanan artefak. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara seniman, kurator, dan pemerintah untuk menekankan pengelolaan museum yang relevan, serta membuka wawasan tentang potensi pengembangan museum di Kalimantan Barat dengan mengangkat narasi lokal ke internasional.

Foto Reyhan Ainun Yafi, M.Pd menjadi pemateri seminar bertema Potensi Heritage di Kota Pontianak (Dokumentasi oleh Abhinaya)


Hari ketiga yang menjadi rangkaian terakhir pada 24 Mei 2026 diadakan diskusi bertema “Potensi Heritage di Kota Pontianak” yang disampaikan oleh Reyhan Ainun Yafi selaku ketua Komunitas Wisata Sejarah (KUWAS) Pontianak. Dalam diskusi itu, ia menyoroti perlunya penguatan sejarah dan pengembangan infrastruktur wisata seperti museum kota, papan informasi situs bersejarah, akses transportasi, dan fasilitas pendukung lainnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan sejarah Pontianak agar warisan budaya daerah dapat terus dikenal, dilestarikan, dan dikembangkan.

Acara ini menjadi momentum penting dalam menghadirkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap perjalanan sejarah, peristiwa yang pernah terjadi dan bagaimana kehidupan masyarakat kota di masa lalu, serta dapat menambah perspektif dan pengetahuan sejarah lokal yang luas. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pameran dan diskusi sejarah ini menjadi sarana edukasi publik yang tidak hanya memperkenalkan sejarah dan budaya lokal, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian cagar budaya, pengembangan museum, dan pemanfaatan teknologi digital dalam menjaga warisan sejarah daerah.

Post a Comment

0 Comments