ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Grobogan Dalam Bingkai Mataram Kuno

Arca-arca koleksi Museum Lokal Purwodadi (Sumber: Wisata Grobogan, 2019)


Oleh: Ari Tri Winarno


Grobogan adalah salah satu wilayah yang cukup terkenal di daerah Jawa Tengah terutama daerah pantura. Daerah pertanian yang unik dan identik dengan kisah Ki Ageng Selo yang mengangkap petir plus kisah Ki Ageng Tarub. Tapi ada yang lebih unik lagi berkaitan dengan perjalanan Grobogan dari bingkai Mataram Kuno yang didirikan oleh Sanjaya.

Keunikan ini bisa ditelusuri dari Museum Lokal Purwodadi yang menjadi bagian dari “arsip” penting Grobogan ini. Museum Lokal Purwodadi ini terletak di Jalan Pemuda Purwodadi, Grobogan. Di museum ini terdapat berbagai peninggalan benda purbakala seperti gading dan kerang purba. Benda-benda ini ditemukan di wilayah Kabupaten Grobogan. Ada pula arca-arca yang mayoritas terbuat dari batu putih. Terdapat beberapa arca antara lain Brahma, Ganesha, Mahakala, Bodhisattva, Lingga hingga Durga Mahesasuramardhini.

Arca-arca bercorak hindu-budha era klasik ini ditemukan di daerah Kabupaten Grobogan, kebanyakan ditemukan di Kecamatan Toroh. Melihat peninggalan arkeologis berupa arca yang bercorak Mataram Kuno, terbesit pertanyaan apakah daerah Grobogan ini pernah menjadi bagian dari Mataram Kuno seperti pada cerita yang beredar? Benarkah di era Rakai Panangkaran Grobogan pernah menjadi bagian dari Mataram Kuno? Dalam tulisan ini saya akan sedikit sharing tentang hal tersebut.


Sekilas Mataram Kuno

Artefak Lingga Yoni koleksi Museum Lokal Purwodadi (Sumber: Wisata Grobogan, 2021)

Mataram kuno resmi berdiri pada tahun 732M (namun Epigraf Boechari berpendapat Mataram Kuno berdiri pada 717M), dan didirikan oleh Sanjaya. Menurut Baskoro Daru Tjahjono & Nurhadi Rangkuti dalam Berkala Arkeologi (1998), pada awalnya Kerajaan Mataram Kuno  terletak di Jawa Tengah, dalam bahasa populer lain dikenal sebagai Medang atau Medang Kamulan (terutama setelah pindah ke Jawa Timur). Pada awalnya kerajaan yang dirintis di Jawa Tengah ini  digawangi oleh Wangsa Syailendra. Mataram Kuno  berupa daerah yang dikelilingi gunung diantaranya daerah Dieng,  Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, serta Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh sungai–sungai diantarnya Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo.

Daerah Mataram Kuno sangat subur karena dikelilingi oleh gunung dan sungai. Setelah Mataram Kuno era Jawa Tengah cukup berlangsung lama, pada tahun 929 M Mpu Sindok memindahkan kerajaan ini ke Jawa Timur, Mpu Sindok mendirikan Wangsa Isyana. Hipotesa yang terkenal tentang perpindahan ini disebabkan karena Letusan Gunung Merapi & faktor sumber daya (ingin dekat dengan Sungai Brantas sebagai lalu lintas perdagangan/Teori Sungai Brantas). Mataram Kuno runtuh di era Dharmawangsa Tguh pada tahun 1016 M karena pengkhianatan dari  Aji Wura Wari pemimpin Lwaram yang merupakan bawahan dari Dharmawangsa Tguh. Diduga Raja Lwaram itu bersekutu dengan Sriwijaya. Peristiwa ini  dikenal sebagai “Mahapralaya” yang tulis di Prasasti Pucangan. 


Cerita Rakyat dan Peringkat Sumber Sejarah

Di Grobogan, terdapat cerita rakyat yang beredar yaitu kisah tentang negeri 'Medang Kamulan'. Cerita rakyat yang berkaitan dengan Medang ini sangat banyak, yang cukup terkenal adalah kisah Aji Saka yang berhasil mengalahkan raja yang jahat pemimpin Medang Kamulan yaitu Prabu Dewata Cengkar. Selain kisah Aji saka yang mengalahkan Prabu Dewata Cengkar kemudian naik tahta menjadi raja Medang Kamulan, di Grobogan proses terjadinya Bledug Kuwu (kawah lumpur yang mengeluarkan gas dari dalam tanah)  sering dikaitkan dengan Aji saka dan Joko linglung dari Medang Kamulan. Cerita rakyat yang beredar ini diyakini oleh masyarakat bahwa pusat atau Ibu kota mataram kuno berada di Grobogan.

Menurut Asisi Suhariyanto Buku Rahasia Nusantara (2024) dipaparkan peringkat sumber sejarah sebagai berikut : 1) Prasasti sezaman, 2) peninggalan arkeologis sezaman, 3) karya sastra sezaman, 4) berita asing sezaman, 5) karya sastra dari zaman kemudian, 6) mitos & legenda, 7) kajian dan intepretasi ahli.

Nah dari uraian tersebut digambarkan bahwa semakin kebawah peringkat sumber sejarah maka akan semakin lemah, termasuk legenda ataupun cerita rakyat. Mari kita telisik lagi tentang Grobogan yang sering dikaitkan dengan ibu kota Mataram Kuno berdasarkan cerita rakyat yang beredar.


Grobogan Ibu Kota Mataram Kuno? 

Penemuan Situs Medang Kamulan di Banjarejo, Grobogan (Sumber: kompas.com)

Dimanakah ibu kota Mataram Kuno? Dari hal ini akhirnya Stutterheim pun berpetualang ke wilayah Jawa Tengah bagian utara. Banyak ahli yang mencari pusat dari Mataram Kuno di bagian selatan Jawa Tengah. Stutterheim justru mengalihkan pandangnya ke utara Jawa Tengah. Banyaknya peninggalan arkeologis seperti candi, prasasti, dan lain-lain tentu menjadi daya tarik para peneliti untuk mencari Mataram Kuno di selatan. Sementara di bagian utara, wilayah ini sangat miskin peninggalan arkeologis bahkan beberapa di antara wilayahnya tampak seperti kota tak berpenduduk. 

Stutterheim justru berpendapat bahwa kehadiran candi di selatan menjadikannya kawasan alam orang mati (realm of dead). Menurutnya candi adalah semacam kuburan yang indah. Hal ini kemudian didukung pula dengan temuan pecahan keramik dan tembikar di kawasan Prambanan dan dataran Sorogedug pada 1939 dan 1940. Pecahan-pecahan tersebut memang berasal dari periode yang sama seperti monumen candi, namun tidak ditemukan temuan barang-barang rumah tangga.

Stutterheim menduga ibu kota Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya) ada di Grobogan, didasarkan atas survei persebaran dan kepadatan tinggalan keramik yang dilakukan Orsoy de Flines pada tahun 1940an. Bahkan temuan seperti ini tidak ditemukan di daerah Prambanan dan Sorogedug. Di Grobogan berkembang dalam tradisi tutur tentang Aji Saka & Kerajaan Medang Kamulan yang merupakan ingatan kolektif dari waktu ke waktu. Di sana ada wilayah yang menyebut nama “Medang” seperti Medang yakni: Medang Ramesan, Medang Remit, Medang Kamulan dan lain-lain. Bahkan pada tahun 2015 lalu didaerah Kecamatan Gabus ditemukan situs yang dikenal sebagai “Situs Medang Kamulan”. 

Dalam sejarahnya pada masa Kerajaan Mataram Kuno dan Kahuripan, daerah Grobogan merupakan daerah yang penting. Sedang pada masa Majapahit, Demak, dan Pajang, daerah Grobogan juga dikaitkan dengan cerita rakyat Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarub, & Medang Kamulan. Pada masa kerajaan Mataram Islam, daerah Grobogan termasuk Daerah Monconegoro dan pernah menjadi wilayah koordinatif Bupati Nayoko Ponorogo: Adipati Surodiningrat. Dalam masa Perang Prangwadanan dan Perang Mangkubumen, daerah Grobogan merupakan daerah basis kekuatan Pangeran Prangwedana (RM Said) dan Pangeran Mangkubumi.

Jika mengacu pada pengelompokan peringkat sumber sejarah yang sudah disebutkan tadi, mitos atau legenda ini memiliki peringkat ke 6. Termasuk juga cerita rakyat tentang Medang Kamulan yang sering dikaitkan dengan Grobogan. Meski begitu, di daerah Grobogan sering ditemukan arca-arca bercorak Hindu-Budha.  Jadi sumber sejarahnya termasuk bervariati dari berbagai peringkat (para ahli tentunya memiliki metode yang lebih kompleks dalam mengidentifikasi hal ini).  

Di Kabupaten Grobogan juga terdapat tempat unik yaitu Candi Joglo atau Candi Joglo Semar. Menurut Endah Sri Hartatik dan Wasino dalam Grobogan Dalam Sejarah dan Heritage (2021), Candi Joglo Semar adalah ikhtiar menghadirkan bangunan candi pada masa Kerajaan Medang Kamulan.  Disini kita semakin mengetahui pengaruh Mataram kuno bisa sampai ke Grobogan. Mengenai daerah Grobogan sebagai ibu kota mataram kuno dugaan Stutterheim pun bertentangan dengan dugaan lain seperti N.J Krom dan Poerbatjaraka. N.J Krom dan Poerbatjaraka menduga ibu kota mataram kuno ada di bagian wilayah Jawa tengah bagian selatan. Ibu kota Mataram Kuno secara historis pun juga berpindah-pindah, seperti yang sudah dijelaskan di penjelasan sebelumnya.

Dugaan Stutterheim masih menjadi perbedaan pendapat para ahli. Cerita rakyat tentang Medang Kamulan dan adanya wilayah bernama Medang pun hal ini masih debatable sebagai bukti bahwa Grobogan/Purwodadi pernah menjadi ibukota Mataram Kuno atau tidak. Sampai saat ini belum ada penelitian lebih lanjut dari para ahli. Kita hanya bisa mengetahui dugaan populer yang berkembang tentang daerah Grobogan yang merupakan bagian dari Mataram Kuno era Wangsa Syailendra. Berdasarkan temuan arkeologis seperti arca-arca yang sering ditemukan di daerah Kabupaten Grobogan dan juga cerita rakyat Medang Kamulan yang berkembang dari generasi ke generasi. 

Meskipun sampai hari ini belum dapat menemukan kepastian apakah daerah Grobogan pernah menjadi ibu kota Mataram Kuno atau tidak, kita menemukan hal yang unik yang bisa dijadikan sebagai identitas keberlanjutan dalam pelestarian budaya, khususnya wilayah Kabupaten Grobogan. Berbekal dari cerita rakyat Medang Kamulan dan peninggalan bercorak Hindu-Budha yang sering ditemukan di wilayah Grobogan, hal itu bisa menjadi sarana untuk mengemas Purwodadi/Grobogan sebagai kota budaya yang lebih mendunia dengan sentuhan-sentuhan kebudayaan yang lebih kompleks.  Dengan mengemas tradisi tutur Medang Kamulan dan peninggalan-peninggalan arkeologis dapat menjadikan hal ini pijakan untuk terus mengembangkan Kabupaten Grobogan sebagai “markas budaya” yang lebih populer. 


---

Ari Tri Winarno adalah penggiat sejarah yang berdomisili di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Artikel ini pernah dimuat dalam Buku “Pesona Budaya Grobogan” terbit pada Agustus 2025 dengan Judul Asli “Museum Lokal Purwodadi & Jejak Mataram Kuno” di Grobogan. Artikel ini merupakan penyempurnaan dari artikel sebelumnya.

Post a Comment

0 Comments