ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Merawat Warisan Budaya & Menghidupkan Kembali Sejarah Bangunan Islam

Peserta telisik sejarah Himsera Untan, 16 Mei 2026 (Dok. Abhinaya R)
 

Oleh: Abhinaya Rivariezto

Telisik Sejarah Himsera Untan kembali diadakan di wilayah kesultanan, untuk merawat memori terhadap warisan budaya dan menghidupkan kembali sejarah melalui keberadaan bangunan era Islam di Pontianak. 

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (Himsera) FKIP Universitas Tanjungpura tahun ini kembali melaksanakan Telisik Sejarah bertemakan “Merawat Warisan, Menghidupkan Sejarah: Eksplorasi Bangunan Islam di Pontianak” di wilayah Kesultanan Kadariah Pontianak. Kegiatan yang dihadiri sekitar 26 orang ini telah menjadi rangkaian dari kegiatan History Fest yang menjadi agenda tahunan dari Himsera FKIP UNTAN. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu 16 Mei 2026 menelisik Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Istana Kadariah, dan Surau Bait Annur. 

Kegiatan ini dipandu oleh Muhammad Meizar Mewira dan Nailsya Putri Maghfira, keduanya selaku panitia History Fest. Kegiatan juga diikuti oleh pelajar lain, seperti dari SMAN 8 Pontianak dan mahasiswa perguruan, serta peserta umum yang mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Mewira berharap kegiatan ini bermanfaat bagi penggiat sejarah yang haus akan wisata edukasi seperti ini.   

Kunjungan pertama ke Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman yang disambut oleh Syarif Ahmad Al-Mutahar selaku Bendahara Masjid Jami sekaligus menjadi pemateri, yang menekankan bahwa bangunan ini menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Kadariah. Ia menjelaskan awalnya masjid ini dari sebuah surau sederhana (langgar). Seiring waktu, bangunan tersebut mengalami renovasi besar hingga menjadi masjid yang megah dan dikenal sebagai salah satu yang tertua di Pontianak. 

Saat ini bangunan masjid terawat efektif agar terjaga dari segi nilai sejarah budaya, seperti yang dikatakan Syarif Ahmad Al-Muntahar 

Ini kita pertahankan saja apa yang ada, dengan perawatan semampu kita. Jika, kalau ada yang rusak kita ganti, tetapi kembali pada asal semula. Saat ini bahan untuk merenovasi masjid ini masih terbatas, tetapi masjid ini sempat melakukan pemugaran di tahun 2019. Masjid tidak hanya tempat solat beberapa waktu lalu ada kunjungan dari luar pulau dan turis luar negeri”.


Peserta telisik sejarah berkunjung ke Istana Kadriah, 16 Mei 2026 (Dok. Abhinaya R)

Kunjungan kedua yaitu Istana Kesultanan Kadariah yang dimana bagian luar dan dalam masih terjaga dan terawat sehingga koleksi-koleksi juga masih dipajang saat ini. Donny Iswara selaku Sekretaris Istana Kesultanan Kadariah menjadi pemateri kedua dalam kegiatan telisik. Dia menjelaskan tentang istana ini menjadi bagian awal mula berdirinya Kesultanan Kadariah di Pontianak. Sejarah dakwah islam yang dilakukan pertama kali di Pontianak oleh Kesultanan, dan bagaimana kehidupan Kesultanan dari masa ke masa terutama saat kejayaan di era Sultan Syarif Muhammad selama 40 tahun.

Ia juga mengatakan bahwa Istana Kesultanan Pontianak saat ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dari Kalimantan Barat. Nilai sejarah, sosial, tradisi, dan budaya di istana ini masih diwarisi “Kita cukup berterimakasih dengan pemerintah yang telah menjadi Istana Kadariah Kesultanan Pontianak sebagai benda cagar budaya tingkat nasional satu-satunya di Kalimantan Barat dengan begitu terjadi hubungan baik antara Pemerintah dan Kesultanan, khususnya upaya pelestariannya. Pada saat ini, secara rutin istana mengadakan milad hari ulang tahun Pontianak. Kemudian di momentum itu dihidupkannya berbagai macam kebudayaan misalnya jepin, lomba kuliner, dan karnaval air sebagai kepedulian pemerintah”.

Masjid Jami Sultan Abdurrahman Pontianak, 16 Mei 2026 (Dok. Abhinaya R)

Terakhir Surau Baitannur atau dikenal Surau Haji Naim yang terletak di Jalan Tritura, Pontianak Timur. Surau Haji Naim merupakan Surau tertua dan pertama di kota Pontianak. Syarif Usman selaku Penasihat Surau dan Saleh Syarwani sebagai pengurus, keduanya menjadi pemateri dalam kegiatan kunjungan terakhir. Menjelaskan Surau ini dibangun pertama kali didirikan oleh seorang nahkoda dari rombongan Sultan Syarif Abdurrahman. Alasan Surau Baitannur disebut Surau Haji Naim karena bangunan ini dibangun dibawah tanah milik Haji Naim.  Surau ini berusia sekitar 224 tahun saat ini ditetapkan sebagai bangunan  cagar budaya di wilayah kesultanan selain Masjid Jami dan Istana Kadariah.

Pak Saleh menjelaskan Surau Bait Annur sebagai cagar budaya, “Surau atau zaman dulu dikenal Langgar ini sebenarnya cocok menjadi Bangunan Cagar Budaya sebagai Surau Tertua karena bangunannya masih seperti ini berbahan kayu belian dan bentuk rumah panggung. Surau ini masih asli sehingga bisa dijadikan bagian dari sejarah". 

Syarif Usman juga mengatakan kesannya “Jika Kita mencintai tempat ibadah ini, kita berusaha agar tidak terjadi apapun dan hanya bisa menjaga Surau Bait Annur ini menjadi indah. Dulu, saya pernah sebagai ketua menyampaikan aspirasi kepada masyarakat bagaimana cara untuk menjaga surau ini tetap indah walaupun sudah lama. Nantinya juga ada perbaikan untuk benda cagar budaya ini dari pihak Balai Pelestarian Kebudayaan.”

Rio Prayogo seorang Alumni Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNTAN, dalam wawancaranya memberikan kesan dan masukan untuk kegiatan telisik tahun ini “Untuk kesan saya, semoga kedepannya dilanjutkan lagi kegiatan-kegiatan seperti ini. Karena, kegiatan seperti ini dapat mengembangkan pemahaman-pemahaman dari siswa, kalangan umum, dan masyarakat. Sejarah yang belum kita ketahui itu masih banyak apalagi sejarah lokal wajib diketahui oleh warga lokal. Kegiatannya sangat menarik dan interaktif untuk saya belajar sejarah lokal  secara lebih lanjut” kesan dan masukkan darinya.

Kegiatan telisik ini menunjukkan pentingnya pelestarian situs bersejarah Islam sebagai sumber edukasi dan identitas lokal. Melalui kunjungan ketiga bangunan tersebut, kita tidak hanya memahami sejarah berdirinya Kesultanan Kadariah dan perkembangan Islam di Pontianak, tetapi juga menyadari nilai warisan budaya yang harus dijaga. Kegiatan ini memperkuat kesadaran generasi muda dan masyarakat bahwa merawat bangunan bersejarah berarti menjaga warisan budaya sekaligus menghidupkan kembali nilai sejarah lokal agar tetap relevan di masa kini dan masa depan.

Post a Comment

0 Comments