![]() |
| Kumpul keluarga dan makan bersama di malam Tahun Baru Imlek, Tianjin, 1953 (chinaculture.org) |
Oleh: Judirho, Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Mimbar Untan
Siapa sangka Gong Xi Gong Xi yang berarti 'selamat-selamat' awalnya menggambarkan euforia dan rasa bahagia rakyat Tiongkok setelah dilanda puluhan tahun konflik dan peperangan sejak era akhir abad ke-19 hingga berakhirnya perang saudara tahun 1949.
Lagu “Gong Xi Gong Xi” hampir selalu terdengar setiap kali perayaan Imlek tiba. Nada yang riang dan lirik yang berisi ucapan selamat membuat banyak orang mengira lagu ini sejak awal memang diciptakan sebagai lagu Tahun Baru Imlek. Padahal, tidak banyak yang mengetahui bahwa lagu tersebut lahir dari pengalaman sejarah yang panjang dan penuh penderitaan yang dialami masyarakat Tionghoa pada awal abad ke-20. Demikian Melody Lau dalam tulisannya berjudul The Dark History Behind One Of Lunar New Year's Most Popular Songs (2020).
Awal abad ke-20 merupakan periode yang penuh ketidakstabilan bagi Tiongkok. Michael Wicaksono dalam bukunya berjudul Republik Tiongkok (2015), mencatat sejumlah rangkaian kekalahan Tiongkok dalam peperangan menjelang hingga awal abad ke-20. Antara lain dalam Perang Candu terhadap Inggris beserta kekuatan asing lainnya, kekalahan dalam Perang Jepang–Tiongkok Pertama pada akhir abad ke-19, dan kekacauan Pemberontakan Boxer pada tahun 1900 membuat kekuasaan Dinasti Qing semakin melemah. Situasi politik yang rapuh kemudian memicu Revolusi Xinhai tahun 1911 yang dipimpin Sun Yat Sen, yang mengakhiri sistem kekaisaran yang telah berlangsung selama ribuan tahun dan melahirkan Republik Tiongkok.
Namun, runtuhnya Dinasti Qing tidak serta-merta membawa stabilitas. Tiongkok justru memasuki masa konflik berkepanjangan. Setelah revolusi, berbagai wilayah berada di bawah kendali para panglima perang (warlord) yang saling berebut kekuasaan, terutama dalam masa Pemerintahan Beiyang yang merupakan warisan politik Yuan Shikai. Kondisi tersebut membuat kehidupan masyarakat sipil diliputi ketidakpastian, baik dari segi keamanan maupun ekonomi.
Upaya penyatuan wilayah melalui Ekspedisi Utara (1926-1928) yang dipimpin Chiang Kai-shek sempat meredakan konflik antar panglima perang. Akan tetapi, timbul pula persaingan ideologi yang kemudian memicu perang saudara antara Partai Kuomintang di bawah Chiang Khai-shek dan Partai Komunis di bawah Mao Zedong. Situasi semakin memburuk ketika Jepang melancarkan invasi besar-besaran ke Tiongkok pada tahun 1937. Invasi tersebut memperparah penderitaan masyarakat dan menyebabkan kerusakan luas di berbagai kota. Dalam kondisi ini, Kuomintang dan Komunis untuk sementara waktu bekerja sama untuk melawan Jepang.
![]() |
| Victory Day di Shanghai, 3 September 1945, menampilkan spanduk foto empat pemimpin negara sekutu (Soviet, Inggris, Amerika Serikat, dan Tiongkok). (Ministry of Propaganda, China, 1945 in Wikimedia) |
Perang
melawan Jepang yang menjadi bagian dari Perang Dunia Kedua di Asia meninggalkan
trauma mendalam bagi masyarakat Tiongkok. Banyak orang kehilangan rumah,
keluarga, dan sumber penghidupan. Michael Wicaksono dalam tulisannya di Republik
Rakyat Tiongkok-Dari Mao Zedong Sampai Xi Jinping (2017) menyebutkan, setelah
Jepang menyerah pada tahun 1945 konflik internal kembali terjadi. Koumintang
dengan Partai Komunis kembali bertikai hingga berlanjut dengan apa yang disebut
Perang Saudara Tiongkok, dan berakhir pada tahun 1949 dengan berdirinya
Republik Rakyat Tiongkok pimpinan Mao Zedong. Selama puluhan tahun konflik
tersebut, jumlah korban jiwa sangat besar dan masyarakat hidup dalam
ketidakpastian yang panjang.
Dalam situasi pascaperang itulah lagu Gong Xi Gong Xi lahir. Lagu ini ditulis oleh Chen Gexin pada tahun 1945 sebagai ungkapan rasa syukur atas berakhirnya pendudukan Jepang sekaligus sebagai ucapan selamat kepada mereka yang berhasil bertahan melewati masa perang. Bagi para penyintas, lagu ini bukanlah lagu perayaan tahun baru, melainkan simbol kelegaan setelah melewati masa konflik panjang sejak runtuhnya Dinasti Qing hingga berakhirnya Perang Saudara Tiongkok.
Lirik Gong Xi Gong Xi menggunakan perubahan musim sebagai metafora. Berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi menggambarkan berakhirnya penderitaan dan munculnya harapan baru. Makna tersebut sangat dekat dengan pengalaman masyarakat yang baru keluar dari masa perang, sehingga lagu ini cepat dikenal dan diterima sebagai representasi perasaan kolektif tentang kelegaan dan harapan.
Seiring berjalannya waktu, makna lagu ini mengalami pergeseran. Karena sering dinyanyikan pada Festival Musim Semi dan memiliki kesamaan ungkapan dengan ucapan “Gong Xi Fa Cai”, lagu Gong Xi Gong Xi kemudian diasosiasikan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Demikian Rahayu, Puspita, dan Priscilla (2020), dalam penelitiannya berjudul Makna Peruntungan Usaha dalam Simbol di Budaya Imlek bagi Masyarakat Etnis Tionghoa.
![]() |
| Mao Zedong membacakan proklamasi berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 1949. (origins.osu.edu) |
Hal ini juga ditegaskan oleh Tanggok (2017) dalam Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur Dan Menanti Datangnya Rezeki, bahwa pada tradisi masyarakat Tionghoa, Imlek sendiri memang melambangkan harapan, keberuntungan, dan awal kehidupan yang baru. Akibatnya, generasi berikutnya lebih mengenal lagu ini sebagai lagu perayaan daripada sebagai refleksi sejarah.
Perubahan
tersebut menunjukkan bahwa makna sebuah karya budaya dapat berkembang mengikuti
ingatan kolektif masyarakat. Gong Xi Gong Xi yang awalnya lahir dari pengalaman
perang dan penderitaan kini menjadi simbol kegembiraan dan harapan setiap kali
Imlek dirayakan. Lagu ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga
menjadi pengingat bahwa di balik perayaan terdapat sejarah panjang tentang
perjuangan untuk bertahan hidup.
Editor: Rikaz



0 Comments