![]() |
| Ilustrasi masakan rendang (Sumber: Indonesia Kaya) |
Oleh: Amelia Arum Ramadhani
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura
Hidangan yang diketahui eksis sejak abad ke-14 M, tercipta berkat akulturasi melalui pedagang India. Dinobatkan menjadi salah satu makanan terlezat dunia dan juga alat diplomasi RI.
Nun jauh di sebelah barat Sumatera sohor cerita Malin Kundang dan Siti Nurbaya, lekat dengan kuliner khasnya yang melegenda seantero dunia. Ialah randang atau sering dikenal dengan rendang telah menjadi ciri khas penganan khas dari tanah minang. Rendang atau “randang” berasal dari kata kerja “merandang” yang berarti mengeringkan atau menghilangkan air dengan cara diaduk perlahan. Tiap gigitan dari potongan rendang diolah dari belasan hingga puluhan rempah serta telah melalui proses pengolahan hingga berjam-jam. Ragam rempah yang diaduk menjadi satu dalam sebuah dandang menghasilkan aroma yang menguar memenuhi dapur siapapun yang memasak masakan ini. Rendang memiliki filosofi yang diyakini sejak dulu oleh masyarakat Sumatera Barat. Pengolahan pembuatan rendang yang panjang memiliki makna kesabaran, kegigihan, dan kebijaksanaan. Proses memilih bahan-bahan, menyalakan api hingga mengaduk rendang mengandung 3 filosofi kuat sebagai fondasi hidup masyarakat Minangkabau.
Kehadiran rendang disinyalir sudah ada sejak abad ke-14. Dilansir dari Nurmufida, dkk. dalam Rendang: The Treasure of Minangkabau (2017), rendang terjadi akibat akulturasi budaya yang dimulai dari datangnya suku India di daerah Minang pada abad ke-14 untuk menandatangani perjanjian perdagangan sekaligus membawa budaya mereka dalam bentuk makanan, yaitu kari. Kari khas India hampir sama seperti gulai, namun masyarakat Minang memasaknya kembali hingga warnanya lebih gelap dan daging menyerap kuahnya dengan sempurna. Proses memasak rendang memerlukan waktu 6-7 jam hingga teksturnya menjadi kering. Keringnya rendang membuat makanan ini tahan lama dan kerap dibawa masyarakat Minang kala itu sebagai bekal mereka ketika merantau mengarungi lautan. Kegiatan merantau orang Minang ke luar pulau Sumatera bahkan mancanegara menyebabkan popularisme rendang meningkat ke seluruh pelosok dunia.
![]() |
Rendang bagi orang Minang bukan hanya sekedar makanan biasa.
Rendang dikenal sebagai “kapalo samba” (rajanya para makanan), sehingga makanan
ini harus ada pada setiap jamuan adat. Bahan-bahan yang digunakan dalam
pembuatan rendang juga sarat akan makna yang melambangkan lapisan masyarakat
Minangkabau. Dilansir dari Masdison dalam Rendang
Nan Enak Itu (2018), terdapat 4 macam bahan utama dalam pembuatan rendang,
yaitu:
- Dagiang atau daging sapi merupakan simbol Niniak Mamak, Datuak, atau Pangulu
yang dianggap sebagai pemberi kemakmuran bagi anak dan keponakan.
- Karambia atau kelapa merupakan simbol kaum Cadiak Pandai (orang cerdas) yang dianggap mampu memecahkan
masalah sekaligus merekatkan kebersamaan individu maupun kelompok.
- Lado atau cabai merupakan simbol ulama yang memiliki perawakan
tegas dalam mengajarkan agama.
- Pemasak atau bumbu merupakan simbol masyarakat Minangkabau yang beragam, terdiri dari Bundo Kanduang (ibu-ibu), Manti, dan Dubalang (pengawal).
![]() |
| Bahan utama rendang yang
merepresentasikan nilai-nilai budaya dan struktur sosial masyarakat Minang (Sumber: Masdison dalam Rendang Nan Enak itu, 2018) |



0 Comments