ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Peninggalan Bercorak Era Hindu di Sintang

Keraton Al-Mukarramah Sintang (Dok. Fachri Aditya Atmaja via travel.detik.com)


 Oleh: M. Aqif Alghifari

Kontributor Majalah Riwajat

Pengaruh agama Hindu di Sintang tidak lepas dari kedatangan tokoh penyebar Hindu bernama Aji Melayu pada abad ke-4 M. Peninggalan Sintang Kuno yang bercorak Hindu  masih dapat ditemukan dan bertahan hingga kini.

 

Peninggalan dari Masa Klasik (Hindu-Buddha) di Kalimantan Barat hanya diketahui sebagian kecil kelompok masyarakat. Mengingat peninggalan dari Masa Klasik di Kalimantan Barat bersifat sakral atau difungsikan sebagai media keagamaan bagi agama Hindu-Buddha, sehingga sangat jarang dikunjungi masyarakat untuk beribadah karena agama Hindu-Buddha adalah minoritas di Kalimantan Barat. Meskipun berkembang di waktu yang bersamaan, agama Hindu dan Buddha berbeda, sehingga peninggalan dari Masa Klasik dapat dikelompokan menjadi peninggalan Masa Klasik berkarakter Hindu dan Masa Klasik berkarakter Buddha. Dalam konsep ketuhanan, agama Hindu menganggap Dewa adalah pencipta dan penguasa alam semesta, sedangkan dalam agama Buddha Dewa bukanlah pencipta dan penguasa alam.

Hindarto dalam Kalimantan Dalam Wacana Indianisasi mengungkapkan, situs arkeologi atau peninggalan keagamaan Hindu-Buddha banyak ditemukan di Kalimantan Barat. Khusus di Kabupaten Sintang, belum ada peninggalan berkarakter Buddha yang ditemukan. Namun, peninggalan berkarakter Siwaisme dapat ditemukan. Siwaisme disebut juga dengan Saiwa adalah aliran dalam agama Hindu yang menempatkan Dewa Siwa sebagai Dewa utama. Adapun peninggalan tersebut berbentuk Mukhalingga, Lingga Yoni, dan Arca Nandi yang berlokasi di Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang (2008).

Sebelum mengenal peninggalan dari Masa Klasik berkarakter Hindu di Sintang, pembaca perlu terlebih dahulu mengetahui secara sekilas mengenai sejarah Kerajaan Sintang bercorak Hindu. Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, masuknya pengaruh agama Hindu di Sintang tidak lepas dari kedatangan tokoh penyebar agama Hindu bernama Aji Melayu pada abad ke-4 M. Dari mana Aji Melayu berasal tidak diketahui secara pasti. Kujau adalah daerah yang Aji Melayu datangi, daerah ini kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan bercorak Hindu–Kerajaan ini dipercaya sebagai embrio dari Kesultanan Sintang.

Berdasarkan temuan peninggalan dari masa Klasik di Sepauk, wilayah Nanga Sepauk dipercaya sebagai pusat Kerajaan Kerajaan Sintang Klasik sebelum dipindahkan ke wilayah Menyumbung (Kampung Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang). Kerajaan Sintang bercorak Hindu diperkirakan bertahan hingga abad ke-17 M. Demikian Nurcahyani dalam Pendataan Sejarah Kerajaan Sintang (1996). Masuknya agama Islam merubah Kerajaan Sintang Hindu menjadi kerajaan bercorak Islam, yaitu Kesultanan Sintang. Meskipun sudah menjadi kerajaan bercorak Islam, beberapa peninggalan dari Masa Klasik (bercorak Hindu) masih dapat dijumpai. Berikut sekilas informasi mengenai peninggalan dari Masa Klasik berkarakter Hindu di Kabupaten Sintang. 


1. Makam Aji Melayu

Makam Aji Melayu (Dok. travel.detik.com)

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kerabat Kesultanan Sintang, Makam Aji Melayu bukanlah tempat jasad Aji Melayu dikebumikan, melainkan petilasan (tempat untuk pertapaan) Aji Melayu. Makam Aji Melayu terletak di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Sepauk, Desa Tanjung Ria, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang. Objek ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sintang berdasarkan Keputusan Bupati Sintang Nomor: 400.6.2/157/KEP.DISDIKBUD/2023.

Makam Aji Melayu memiliki bentuk yang menyerupai makam masyarakat Muslim. Namun, Aji Melayu diyakini sebagai tokoh pembawa ajaran Hindu di Sintang pada abad ke-4 M. Batu nisan dan jirat yang ada hanya berfungsi sebagai penanda bahwa di lokasi tersebut Aji Melayu pernah bertapa. Tanda-tanda tersebut dibuat setelah agama Islam masuk dan berkembang di Sintang, sehingga unsur budaya Islam turut diimplementasikan pada objek tersebut.

Informasi mengenai Makam Aji Melayu sendiri tidak banyak ditemukan. Struktur makam sangat sederhana, hanya seperti empat papan kayu berwarna kuning yang dipasang membentuk jirat persegi panjang. Permukaan makam Aji Melayu hanya tanah biasa dengan dua batu nisan berbentuk persegi. Makam Aji Melayu dilindungi cungkup sirap berwarna coklat berbentuk limasan dengan dinding jeruji kayu dan pintu jeruju kayu berwarna kuning, sehingga makam ini terkesan berada di dalam ruangan. Cungkup makam dikelilingi pagar kayu berwarna kuning. Lantai di dalam pagar sudah dilapisi keramik berwarna putih. Lantai ruang makam juga sudah dilapisi keramik. 


2. Mukhalingga dan Arca Nandi

Situs Cagar Budaya Lingga Yoni dan Batu Nandi di Sepauk, Sintan 
(Dok. travel.detik.com)

Tidak jauh dari Makam Aji Melayu terdapat sebuah batu yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Batu Kalbut. Batu Kalbut teridentifikasi sebagai Batu Mukkalingga. Mukhalingga di Nanga Sepauk merupakan representasi dari kehadiran Siwa di DAS Kapuas. Batu Mukhalingga dan Arca Nandi sebenarnya adalah dua objek yang berbeda, namun penulis sajikan dalam satu pembahasan atas dasar letaknya yang sangat berdekatan. Dalam istilah ikonografi, Mukkalingga adalah lingga sempurna karena tiga dewa tertinggi agama Hindu digambarkan dalam lingga tersebut. Mukhalingga di Sepauk memiliki bentuk yang sama dengan Mukhalingga di Kamboja, sehingga terdapat dugaan objek ini berasal dari abad ke-7 M.

Kondisi objek tertancap di tengah lapik batu berbentuk persegi empat dengan ukuran panjang dan lebar 110 cm, sedangkan tingginya 13 cm. Mukkalingga dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama yang paling atas berbentuk bulat lonjong adalah Siwa Bhaga dengan ukuran tinggi 40 cm dan diameter 26 cm. Bagian tengah Wisnu Bhaga (tinggi 38 cm dan lebar keseluruhan 28 cm), berbentuk segi delapan yang disalahsatu sisinya terdapat ukiran wajah dengan rambut meruncing ke atas, lebar setiap sisi adalah 8 cm. Bagian ketiga yang paling bawah adalah Brahma Bhaga, berbentuk segiempat memiliki lebar 28 cm, sedangkan tinggi bagian ini tidak diketahui secara keseluruhan karena sebagian tertutup lapik. 

Bagian paling atas Mukhalingga atau bagian Siwa Bhaga adalah lambang dewa penghancur alam semesta. Bagian tengah atau pada bagian Wisnu Bhaga melambangkan dewa pemelihara. Bagian bawah Mukhalingga atau bagian Brahma Bhaga melambangkan dewa pencipta. Demikian Hindarto dalam Analisis Struktural Pada Mukhalingga di Nanga Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (2019).

Nurcahyani dalam Pendataan Sejarah Kerajaan Sintang mengungkapkan, berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, posisi Mukhalingga bukan ditempatnya saat ini. Pada tahun 1880, Mukhalingga yang awalnya berada di belakang kampung sebelah kanan Sungai Sepauk (diduga dulu komplek istana) dipindahkan oleh Pangeran Laksamana ke lokasinya saat ini. Disebelah batu Mukhalingga terdapat batu yang teridentifikasi sebagai Arca Nandi. Arca Nandi adalah sebuah patung dengan wujud menyerupai hewan sapi yang sedang mendekam atau duduk. Dalam ikonografi Hindu, arca nandi merupakan kendaraan (wahana) Siwa yang berupa sapi atau lembu.

Ketika ditemukan pada tahun 1985 – 1986 oleh Tim Arkeologi dari Jakarta, kondisi Arca Nandi sudah tidak utuh. Bagian kepala arca sudah hilang, namun bagian gelambir arca masih tersisa sedikit. Bagian ekor pada arca biasanya menempel di punggung, namun sudah hilang juga. Bagian yang tersisa hanya bagian perut, punggung, kaki depan yang dilipat ke belakang, dan kaki belakang yang menjulur ke depan (1996). Kedua objek ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Bupati Sintang Nomor: 400.6.2/157/KEP.DISDIKBUD/2023. Objek ini adalah Cagar Budaya berwujud benda yang bersifat sakral tingkat Kabupaten/Kota. Batu Mukkalingga dan Arca Nandi berada di tengah pasar Desa Nanga Sepauk, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. 


3. Batu Kundur

Batu Kundur di halaman Keraton Sintang (Dok. M. Aqif)

Batu Kundur berada di dalam komplek halaman Istana Al-Mukarrammah Kesultanan Sintang bagian kiri. Batu Kundur diduga sudah ada sejak abad ke-13 M. Hal ini didasari oleh peristiwa pemindahan pusat Kerajaan Sintang Klasik yang awalnya berada di daerah Sepauk dipindahkan ke daerah Kapuas Kiri Hilir (Menyumbung) pada abad ke-13 M. Demong Irawan gelar Jubair Irawan I menanam atau menancapkan Batu Kundur di halaman Istana Kerajaan Sintang sebagai lambang atau penanda berdirinya pusat kerajaan yang baru. Demikian Syamtasiyah, dkk, dalam Sejarah Kesultanan Sintang di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat (2017). Batu Kundur dilindungi oleh cungkup berbahan sirap dengan pagar kayu serta lantai keramik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari penelitian milik Faturrahman, dkk, dalam Istana-istana Di Kalimantan Barat, sebenarnya Batu Kundur adalah lingga. Dalam agama Hindu, lingga berfungsi sebagai sarana komunikasi, lambang atau penggambaran wujud visual pemujaan dewa Siwa. Hal ini mempertegas bahwa pada saat pemindahan pusat kerajaan, Kerajaan Sintang masih bercorak Hindu. Keberadaan Batu Kundur banyak dihubungkan dengan mitos. Salah satunya adalah jika batu ini digosok maka tidak lama kemudian akan terjadi hujan. Apabila ada yang memindahkan Batu Kundur dari tempat asalnya, maka masyarakat Sintang akan mendapat bencana alam berupa badai angin dan hujan petir.

Diameter dari Batu Kundur adalah 35 cm, panjang benda tidak diketahui karena bagian bawah batu terkubur. Penamaan objek didasari bentuk batu yang menyerupai buah kundur. Ada juga yang berpendapat jika bentuk batu ini menyerupai Binatang undur-undur. Bentuk Batu Kundur relatif bulat dengan permukaan yang halus dan ada sedikit bercak putih (n.d.). Batu Kundur sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Sintang berwujud benda yang bersifat sakral berdasarkan Keputusan Bupati Sintang Nomor: 400.6.2/157/KEP.DISDIKBUD/2023.


4. Alat Musik

Alat musik gamelan yang dipercayai berasal dari abad ke-14 M 
tersimpan di Keraton Sintang (Dok. M. Aqif)

Terdapat seperangkat alat musik orkestra gamelan khas Jawa yang terdiri atas Saron, Bonang, Gong, dan Kenong di Istana Kesultanan Sintang. Alat music ini dibawa oleh Patih Logender dari Pulau Jawa. Terdapat dua versi cerita tentang asal usul Patih Logender. Versi pertama, menurut  Nurcahyani dalam Pendataan Sejarah Kerajaan Sintang, pada abad ke-13 Masehi Kerajaan Sintang kemungkinan didatangi kelompok Ekspedisi Pamalayu. Namun, tahun pasti kedatangan mereka belum dapat diketahui secara pasti karena kurangnya bukti. Salah seorang dari kelompok Ekspedisi Pamalayu yang datang ke Sintang bernama Patih Logender (1996). Sedangkan versi kedua menurut Sjamsuddin dalam Perlawanan & Perubahan di Kalimantan Barat, Kerajaan Sintang 1822-1942, berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, Patih Logender dan rombongan berasal dari Majapahit yang datang ke Sintang sekitar abad ke-14 Masehi (2013).

Syahzaman & Hasanuddin dalam Sintang Dalam Lintasan Sejarah  mengatakan, kedatangan Patih Logender diterima baik oleh penguasa Sintang. Mereka diizinkan menetap, kemudian diangkat menjadi penasehat kerajaan dan akhirnya mengawini putri Raja Sintang, yaitu Putri Dara Juanti. Bukti-bukti pernikahan antara Patih Logender dan Dara Juanti masih tersimpan di Istana Kesultanan Sintang. Bukti pernikahan berwujud benda seserahan, alat musik orkestra gamelan khas Jawa adalah salah satu seserahan dari Patih Logender untuk meminang Dara Juanti. Atas dasar inilah, diperkirakan alat musik orkestra gamelan khas Jawa ini dibuat sekitar abad ke-13 hingga 14 Masehi.

Selain peninggalan di atas, masih terdapat 2 peninggalan era Hindu di Kabupaten Sintang berwujud benda dan bersifat sakral, yaitu Lingga Yoni Dara Juanti di Desa Muara Kota, Kecamatan Serawai dan Batu Lingga Yoni di Desa Bernayau, Kecamatan Sepauk. Kedua objek tersebut  ditemukan di sekitar aliran sungai dan sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat kota berdasarkan Keputusan Bupati Sintang Nomor: 400.6.2/157/KEP.DISDIKBUD/2023 Tentang Penetapan Benda Cagar Budaya dan Objek Diduga Cagar Budaya yang Terdapat di Kabupaten Sintang. 


Redaktur: Karel Juniardi

Post a Comment

0 Comments