ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Merawat Ingatan yang Terluka: Biografi Politik Seni Sandur dari Masa ke Masa

Ilustrasi Seni Sandur (Sumber: liputan6.com)

Oleh: 

T.H. Hari Sucahyo, pegiat Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”


Ada ironi yang masih tersisa di banyak wilayah Indonesia hingga hari ini. Sebuah kesenian yang lahir dari kehidupan masyarakat, tumbuh bersama denyut nadi desa, dan diwariskan lintas generasi, justru pernah dicurigai sebagai ancaman. Sandur, salah satu seni tradisional yang hidup di Jawa Timur dan sebagian wilayah Jawa Tengah, adalah contoh nyata bagaimana kebudayaan dapat terseret ke dalam pusaran politik yang tidak diciptakannya.

Selama puluhan tahun, Sandur hidup dalam stigma yang tidak pernah benar-benar dipilihnya. Ia dicap sebagai kesenian yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), bukan karena substansi pertunjukannya, melainkan karena sejarah politik Indonesia yang pernah menjadikan hampir semua bentuk ekspresi rakyat sebagai objek kecurigaan. Akibatnya, Sandur tidak hanya kehilangan panggung, tetapi juga kehilangan ruang aman untuk diwariskan.

Ada sesuatu yang menarik terjadi beberapa tahun terakhir. Di tengah arus modernisasi dan gempuran budaya populer, Sandur justru kembali dirindukan. Orang-orang yang dulu enggan membicarakannya mulai mengingatnya dengan rasa haru. Anak-anak muda mulai mendokumentasikan pertunjukannya. Para pelaku seni dan masyarakat desa berupaya menghidupkannya kembali. Seolah-olah ada kesadaran baru bahwa yang selama ini hampir hilang bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan sebagian dari diri kita sendiri.

Sarat Makna

Ungkapan “Melihat Sandur, ya melihat diri kita” terasa sangat relevan untuk menggambarkan situasi tersebut. Sebab, Sandur pada dasarnya bukan hanya seni pertunjukan. Ia adalah cermin kehidupan masyarakat yang melahirkannya. Sandur tumbuh dari ruang sosial masyarakat agraris. Di dalamnya terdapat humor, kritik sosial, musik, tari, nyanyian, dan kisah-kisah tentang keseharian rakyat biasa. Tidak ada jarak yang tegas antara pemain dan penonton.

Semua terasa dekat, akrab, dan membumi. Orang-orang datang bukan semata-mata untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga untuk merayakan kebersamaan. Di situlah letak kekuatan Sandur. Ia bukan seni yang dibangun di atas kemegahan panggung, melainkan di atas relasi antarmanusia. Sandur mengajarkan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang eksklusif dan hanya dapat dipahami oleh kalangan tertentu. Kebudayaan adalah cara masyarakat berbicara tentang dirinya sendiri.

Sayangnya, sejarah Indonesia pernah berjalan dengan cara yang menyakitkan bagi banyak ekspresi budaya rakyat. Setelah peristiwa 1965, banyak kesenian tradisional yang memiliki kedekatan dengan masyarakat akar rumput ikut terkena dampaknya. Hubungan sebagian kelompok seni dengan organisasi massa tertentu pada masa itu membuat seluruh bentuk kesenian yang serupa ikut dicurigai.

Dalam banyak kasus, proses pelabelan berlangsung sangat sederhana sekaligus berbahaya. Sesuatu yang dekat dengan rakyat dianggap identik dengan ideologi tertentu. Sesuatu yang pernah dipentaskan oleh kelompok tertentu langsung dicap sebagai bagian dari kelompok tersebut. Padahal, kebudayaan selalu lebih kompleks daripada sekadar identitas politik.

Sandur menjadi salah satu korbannya. Banyak kelompok Sandur berhenti tampil karena takut dicurigai. Sebagian pelaku seni memilih diam demi keselamatan diri dan keluarganya. Ada pula yang menyimpan alat musik dan kostum pertunjukan di gudang selama puluhan tahun agar tidak menimbulkan persoalan.

Trauma itu diwariskan secara diam-diam. Generasi berikutnya tumbuh dengan ketakutan yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Mereka mendengar bahwa Sandur adalah sesuatu yang berbahaya, tetapi tidak pernah benar-benar tahu alasannya. Akibatnya, lahirlah jarak yang panjang antara generasi muda dan warisan budayanya sendiri.

Inilah yang sebenarnya patut kita renungkan. Betapa mudahnya sebuah stigma menghapus ingatan kolektif suatu masyarakat. Bukan karena masyarakat tidak mencintai budayanya, melainkan karena mereka dipaksa untuk menjauhinya. Padahal, ketika sebuah kesenian menghilang, yang hilang bukan hanya bentuk pertunjukannya. Yang ikut menghilang adalah bahasa, cara bercanda, cara menyampaikan kritik, pengetahuan lokal, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan. Kebudayaan menyimpan memori yang tidak selalu bisa ditulis dalam buku sejarah.

Ketika Sandur nyaris lenyap, sesungguhnya kita juga kehilangan sebagian cerita tentang siapa diri kita. Hari ini, upaya menghidupkan kembali Sandur bukanlah perkara nostalgia semata. Ini adalah upaya memulihkan hubungan masyarakat dengan identitas budayanya sendiri. Sebab, masyarakat yang tercerabut dari akar budayanya akan lebih mudah kehilangan orientasi.

Nostalgia Sandur

Sandur Madura (lontarmadura.com)

Di tengah kehidupan modern yang bergerak sangat cepat, banyak orang mulai merasakan kerinduan terhadap sesuatu yang lebih manusiawi. Teknologi memang mmudahkan komunikasi, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan kedekatan emosional. Kita hidup di era yang serba terhubung, tetapi sering kali merasa semakin terasing. Di sinilah Sandur menemukan kembali relevansinya.

Pertunjukan Sandur mengingatkan bahwa manusia membutuhkan ruang untuk berkumpul, tertawa bersama, dan merenungkan kehidupan secara kolektif. Ia menawarkan pengalaman yang sulit digantikan oleh layar gawai. Kebangkitan Sandur juga memperlihatkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap sejarah. Mereka mulai berani mempertanyakan stigma yang selama ini diwariskan. Mereka tidak menelan mentah-mentah narasi lama, tetapi berusaha memahami konteksnya secara lebih kritis.

Ini bukan berarti menghapus sejarah atau mengabaikan tragedi masa lalu. Justru sebaliknya, ini adalah cara yang lebih dewasa dalam menghadapi sejarah. Kita dapat mengakui bahwa Indonesia pernah mengalami konflik politik yang menyakitkan, tetapi pada saat yang sama kita juga harus berani memisahkan kebudayaan dari prasangka yang tidak berdasar. Kesenian tidak seharusnya dihukum karena situasi politik yang melingkupinya. Kesenian adalah ruang ekspresi manusia yang harus dijaga agar tetap hidup.

Tentu, memperjuangkan Sandur tidak cukup hanya dengan rasa rindu. Kerinduan tanpa tindakan hanya akan menjadi romantisme sesaat. Dibutuhkan komitmen yang nyata dari berbagai pihak. Pemerintah daerah perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi pelestarian Sandur, bukan sekadar menjadikannya acara seremonial tahunan. Sekolah-sekolah dapat memperkenalkan Sandur sebagai bagian dari pendidikan kebudayaan.

Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian dan pendokumentasian yang lebih sistematis. Media massa dan platform digital juga memiliki peran penting untuk memperkenalkannya kepada generasi baru. Yang paling penting, masyarakat sendiri harus kembali merasa memiliki Sandur. Pelestarian budaya tidak akan berhasil jika hanya bergantung pada institusi formal. Kebudayaan akan bertahan apabila tetap hidup di tengah masyarakat yang menggunakannya, merayakannya, dan mewariskannya.

Ada pelajaran yang sangat berharga dari perjalanan panjang Sandur. Bahwa budaya ternyata memiliki daya tahan yang luar biasa. Meski pernah disingkirkan, dicurigai, dan dipaksa diam selama bertahun-tahun, ia tidak benar-benar mati. Ia tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang menolak melupakannya.

Barangkali inilah bentuk perlawanan paling sunyi yang pernah dilakukan oleh kebudayaan. Ia tidak berteriak, tetapi bertahan. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, tetapi menunggu waktu yang tepat untuk kembali dipeluk oleh masyarakatnya. Ketika hari itu tiba, yang muncul bukan sekadar rasa bangga, melainkan juga rasa kehilangan yang selama ini tidak disadari. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya Sandur ketika mereka hampir tidak bisa lagi menemukannya.

Karena itu, perjuangan untuk menghidupkan Sandur sesungguhnya bukan perjuangan tentang masa lalu. Ini adalah perjuangan tentang masa depan. Kita sedang menentukan apakah generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk mengenal akar budayanya sendiri atau tidak. Sandur mengajarkan bahwa identitas sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, jalan tol, atau perkembangan teknologi.

Identitas bangsa juga dibangun oleh cerita-cerita yang diwariskan, oleh lagu-lagu yang dinyanyikan bersama, dan oleh panggung sederhana tempat masyarakat saling berkumpul. Jika semua itu hilang, kita mungkin tetap menjadi masyarakat modern, tetapi kita akan menjadi masyarakat yang kehilangan sebagian ingatannya.

Maka, ketika seseorang berkata, “Melihat Sandur, ya melihat diri kita”, kalimat itu bukan sekadar ungkapan puitis. Itu adalah pengingat bahwa di dalam Sandur tersimpan jejak perjalanan masyarakat yang pernah terluka, pernah dibungkam, tetapi tidak pernah berhenti berharap untuk diingat kembali. Merawat Sandur berarti merawat ingatan kolektif kita sendiri. Membebaskannya dari stigma berarti membebaskan diri kita dari warisan prasangka yang terlalu lama dipelihara.

Dan memperjuangkannya berarti memastikan bahwa generasi mendatang tidak lagi mewarisi ketakutan, melainkan mewarisi kebanggaan atas budaya yang lahir dari tanah tempat mereka berpijak. Sandur bukan hanya milik masa lalu. Sandur adalah cermin yang memantulkan siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita ingin melangkah sebagai sebuah masyarakat.


Baca Artikel Lain Dari T.H. Hari Sucahyo

-Tan Malaka: Dibuang ke Empat Negeri, di Bunuh di Negeri Sendiri

-Rakai Pikatan dan Politik Harmoni di Tanah Jawa

-Tubuh Sebagai Medan Perang Terakhir: Perlawanan Sunyi Martha Chrtistina Tiahahu

Post a Comment

0 Comments