ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Babad Meong: Riwayat Kucing dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Kucing dalam sebuah relief di Candi Borobudur (Collectie Wereldmuseum)


Oleh: 

Putu Prima Cahyadi, Editor in chief di Historical Meaning

Anjing boleh saja menjadi hewan peliharaan terpopuler dalam perjalanan hidup masyarakat di Bali, namun kucing yang kerap diasosiasikan saling bermusuhan juga mendapat tempat tersendiri

 

Keberadaan anjing telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Bali,namun bukan berarti kucing terpinggirkan. Mengutip Julio Saputra dalam artikel Anjing Bali dalam Hidup Masyarakat Bali (2020), kucing juga memiliki beberapa jejak menarik dalam kehidupan penduduk Bali. Berbeda dengan anjing, yang setidak-tidaknya dapat dilacak telah eksis di Pulau Seribu Pura sejak 12.000 tahun yang lalu, mengutip Dawn N. Irion dkk. dalam artikel Genetic Vatiation Analysis Of The Bali Street Dog Using Microsatellites (2005), kapan kucing mulai hadir di Bali sulit diketahui. 

Menurut I Made Dabi Arsana dalam artikel Fragmen Cerita Kucing dalam Penciptaan Seni Lukis (2021), masyarakat Bali telah menjalin hubungan yang akrab dengan kucing. Meski begitu, sejak kapan hubungan tersebut terjalin, masih belum begitu terang. Jika kita menilik perbendaharaan bahasa Bali, kucing dewasa disebut dengan nama méong atau meng, dan anak kucing biasa disebut tay/tai. Tidak ada informasi yang jelas mengapa anak kucing disebut demikian, seperti yang diungkapkan Diantari Putri dalam artikel 10 Sebutan Anak Hewan dalam Bahasa Bali, Ada yang Jarang Didengar (2021).

Generasi muda Bali dewasa ini tidak lagi menggunakan kata tai untuk menyebut seekor anak kucing. Kemungkinan besar, karena penampilan anak kucing sering penuh kotoran, utamanya pada bagian telinga, ia disebut demikian oleh masyarakat Bali pada zaman dahulu. Dalam cerita rakyat Bali, kisah tentang kucing eksis dalam bentuk I Siap Selem (Si Ayam Hitam). Dalam kisah tersebut, seekor kucing jantan pemakan ayam (Meng Kuwuk) memangsa anak-anak dari I Siap Selem. Kisah I Siap Selem sering disajikan dalam bentuk bertutur (mesatua). Hal tersebut diungkapkan Mertaputra dalam tulisan Menyampaikan Nasehat Melalui Sastra (1984) di majalah Warta Hindu Dharma.

Satu hal yang menarik dari kucing dan masyarakat Bali, kehadirannya seringkali dikaitkan dengan kesialan dan ilmu hitam. Seperti apa yang dikisahkan Colin McPhee dalam A House in Bali (1944), yang mengatakan: “[k]esialan terjadi, secara beruntun, dan ketika mereka berakumulasi menjadi semakin banyak, semua mulai cemas. Rantun sang juru masak terpeleset di lantai dapur dan mematahkan lengannya. Peging menginjak paku payung dan mengalami infeksi. Seekor kucing jatuh dari atap, benar-benar jatuh, tanpa sebab dan jelas, dan mati, ketika Kesyur dan Sampih mengatakan bahwa garasi itu berhantu.”

Menurut Chokorda Rahi, yang dihubungi oleh McPhee, kesialan demi kesialan tersebut terjadi karena rumahnya tidak memberikan persembahan kepada butakala. Oleh Chokorda Rahi, McPhee diminta untuk melakukan upacara pembersihan (caru), mengadakan perayaan kepada para butakala dan “menendang mereka dari tanahku.”

Tidak hanya McPhee yang melihat kematian kucing seperti demikian. Mengutip berita berjudul Merasa Dicemarkan Nama Baiknya dalam harian Bali Post pada 21 Juli 1981, Kepolisian Sektor Kota Denpasar memeriksa IWR dan IWO, dua tersangka kasus pelecehan nama baik atas lima orang yang dituding bisa menjadi leak. Menurut pengakuan kedua tersangka, salah satu dari mereka, Ni Ketut Sudi, dapat menjelma menjadi kucing.

Eksistensi Carcan Kucing dalam Budaya Masyarakat Bali

Seorang perempuan dengan kucingnya, 1930an (Collectie Wereldmuseum)

Seperti dalam tradisi Jawa, masyarakat Bali memiliki satu naskah terkait kucing. Naskah tersebut dikenal sebagai Carcan Kucing atau Carcan Meong. Mengutip Inventarisasi Karya Budaya Manuskrip Lontar di Provinsi Bali oleh I Wayan Rupa dkk. (2020), naskah tersebut memuat penghidupan tradisional masyarakat Bali, yakni dalam bidang peternakan dan kedokteran hewan. Bentuk Carcan Kucing atau Carcan Meong serupa dengan Serat katurangganing kucing, yang diperkirakan telah eksis sejak abad ke-19. Satu contoh naskah tersebut diterbitkan pada 1871 dengan judul Serat Katoerangganing ning Koetjing oleh GCT van Dorp & Co, Semarang.

Seperti Serat katurangganing kucing, Carcan Kucing memuat kebaikan dan keburukan dari berbagai kucing bagi pemiliknya. Kedua hal tersebut ditentukan dari warna bulu, corak khusus, dan bentuk ekor. Sebagai contoh, mengutip salinan Carcan Meong oleh Windhu Kn, yang terbit dalam situs BASAbali Wiki (tt.), kucing dengan warna hitam dengan garis putih di bagian kaki sampai ekor, ia disebut sebagai durjana keta. Orang yang memelihara kucing dengan ciri-ciri seperti ini, akan sering sakit-sakitan (ngelahar lakar sesai gelem).

Lontar Carcan Kuching koleksi Pusat Dokumentasi Dinas Kebuudayaan Provinsi Bali
(Sumber: Wikisource)

Berbeda halnya dengan kucing pandita lalaku, dengan punggung yang berbulu garis putih sampai ke mulut, dengan ekor yang menggulung pada ujungnya ia dapat menambah kewibawaan bagi pemiliknya (lakar ngaba wibawa baan ane ngelah). Tidak hanya bentuk fisik kucing yang diamati dalam Carcan Kucing. Mengutip I Putu Permana Mahardika dan Husni dalam artikel Tabu dalam Teks Carcan Kucing (2023), perilaku kucing juga menjadi penanda baik atau buruk bagi sang pemilik. Sebagai contoh, jika ada kucing yang tidur di dalam destar (a-turu ring dastar) di sudut balai, dan tidak pergi, sang pemilik akan mendapatkan selamat serta kebahagiaan (rahayu polih kasukan phala-nya).

Apa pesan yang ingin disampaikan oleh penulis naskah Carcan Kucing kepada masyarakat Bali? Mengutip I Putu Permana Mahardika dkk. dalam artikel The Analysis of Carcan Kucing Text: A Study of Transivity (2022), dengan melihat proses mental antara kucing dan pemiliknya, sang penulis naskah ingin menampilkan bahwa terdapat kutukan dari Tuhan kepada pemilik kucing, jika mereka memelihara jenis kucing tertentu. Untuk mengatasi itu, sang penulis memberikan mantra yang perlu diutarakan dalam teks.

Sebagai Peliharaan sekaligus Sumber Masalah

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Bali mulai melihat kucing menjadi salah satu pilihan untuk dipelihara. Kehadiran kucing tidak serta merta menggantikan posisi anjing, yang telah mengakar begitu kuat. Ia lebih terlihat melengkapi kehidupan hewan yang menggonggong tersebut di Tanah Dewata. 

Hal tersebut terlihat ketika Pemerintah Daerah Bali berupaya untuk mendata populasi anjing ras di Tanah Dewata pada awal 1983. Mengutip satu surat pembaca dari anonim berjudul Beruntung Saya Bukan Anjing! (1983) dalam harian Bali Post, ia mengatakan bahwa “beberapa bapak-bapak di Denpasar memiliki kucing angora.” Kucing ras tersebut masuk secara ilegal ke Bali melalui Gilimanuk. Sama seperti kehadiran anjing ras di Pulau Bali, para kucing angora awalnya adalah peliharaan mereka yang memiliki banyak uang.

Seorang perempuan Eropa dengan kucing anggoranya di Jawa, 1930an (Collectie Wereldmuseum)

Untuk mencegah timbulnya penyakit rabies di Bali, Pemda Bali, melalui pengumuman Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali No. 443.34/180/Binsos Mental, meminta kepada masyarakat yang memelihara peliharaan dari luar Bali untuk mengembalikan mereka keluar Bali atau menyerahkannya ke Dinas Peternakan. 

Meski pengumuman ini dikhususkan untuk anjing ras, Gubernur Bali Ida Bagus Mantra, dalam surat terbuka di harian Bali Post berjudul Penjelasan Gubernur tentang Masalah “Rabies” (1983), mengatakan bahwa ia juga berlaku untuk kera, kucing, dan sebagainya. Tidak diketahui bagaimana akhir dari kebijakan Gubernur Mantra tersebut, mengingat arsip harian Bali Post setelah Januari 1983 dalam kondisi tercerai-berai di Perpustakaan Provinsi Bali. Melihat populasi kucing ras, baik asli maupun campuran (moggie), di Bali dewasa ini, sepertinya kebijakan tersebut tidak berjalan dengan baik.

Kini, populasi kucing di Bali begitu besar. Selain meningkatkan risiko penyakit bagi manusia, mereka juga menjadi masalah bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Banyak dari kucing di Bali hidup liar, merebutkan tanah yang sudah dipenuhi oleh manusia dan kawanan anjing, baik peliharaan maupun jalanan.

Terkait hal ini, komunitas penyayang binatang bermunculan di Bali. Mereka tidak hanya membangun penampungan bagi para kucing liar, seperti yang dirintis oleh Villa Kitty Foundation di Gianyar, tetapi juga melakukan sterilisasi, seperti langkah yang dirintis Bali Pet Crusaders.

Dapat dikatakan, kucing telah hadir di Bali sejak lampau, meski sulit untuk memastikan itu lebih lanjut. Eksistensi naskah Carcan Kucing serta tokoh Men Kuwuk dalam kisah I Siap Selem menunjukkan bahwa kucing setidak-tidaknya telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Bali sejak lumayan lampau. 

Meski tidak terdokumentasikan dengan baik, seperti kisah anjing di Tanah Para Dewa, eksistensi hewan yang mengeong ini kini menjadi bagian dari kehidupan orang Bali, baik sebagai peliharaan, maupun sebagai masalah terkait kesehatan dan kesejahteraan hewan. 

---

Penyunting: M. Rikaz Prabowo

Post a Comment

0 Comments