Oleh: Jonathan Rizqi Zulkarnain
Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Tanjungpura
Hang Tuah, nama yang tidak asing di telinga segelintir orang melayu. Hang Tuah sendiri seorang tokoh dalam sejarah melayu yang diabadikan dalam sebuah literatur bernama “Hikayat Hang Tuah”, ia sering kali dijadikan percontohan dan suri tauladan bagi orang-orang melayu sebab tindak tanduknya dalam kehidupan dianggap sebagai definisi bangsa melayu.
Dilansir dari
Ini adalah salah satu sifat yang dapat dicontoh dari Hang Tuah, walaupun ia sedang menghadapi sebuah masalah yang membahayakan dirinya, ia tetap menuruti perintah ibunya, sikap kepatuhan kepada ibu ini adalah salah satu sifat positif dari Hang Tuah yang perlu ditiru oleh semua orang, tidak terbatas oleh orang melayu saja. Selain itu, Hang Tuah juga merupakan seorang yang taat kepada pemimpinya dan ia sangat patuh terhadap Rajanya pada masa itu.
Dikutip dari Martudji (2024) dalam Hang Jebat vs Hang Tuah, Hang Tuah menaruh kesetiaan tertinggi kepada Sultan. Pun terpaksa melawan sahabat masa kecilnya itu, yang memberontak karena mengira Hang Tuah telah mati. Hang Jebat yang kecewa mengatakan, "Raja adil Raja disembah, Raja zalim Raja disanggah." Lalu dibalas Hang Tuah, "takkan Melayu menderhaka kepada rajanya." Kisah ini terjadi ketika Hang Tuah dijatuhi hukuman mati dari Raja karena tertuduh merebut Putri Tun Teja, padahal Hang Tuah tidak melakukan demikian, Putri Tun Teja dari Pahang memang mengagumi dan menyukai Hang Tuah walaupun ia seharusnya dipasangkan dengan Sultan Malaka saat itu. Hang Jebat yang mengira Hang Tuah telah dihukum mati berencana memberontak pada Sultan, namun ia tidak mengetahui bahwa Hang Tuah rupanya melarikan diri.
![]() |
| Ilustrasi Hang Tuah (republika.co.id) |
Nilai-nilai positif dari Hang Tuah sendiri banyak yang didasari oleh nilai-nilai islami dikarenakan kebanyakan bangsa melayu di saat itu menganut agama Islam, dan Hang Tuah sendiri juga dianggap sebagai orang yang paham terhadap nilai-nilai agama Islam. Menurut Mu’jizah & Mujiningsuh (2023) dalam Identitas dan Spirit Hidup ke Inspirasi Literasi Budaya: Studi Hikayat Hang Tuah, Hang Tuah adalah simbol kejayaan Melayu yang tanah asalnya dari Bintan dan mengabdi pada Raja Malaka. Pada masa itu kemaharajaan Melayu masih menjadi sebuah wilayah kekuasaan yang luas, sebelum terjadinya Traktat London, pada tahun 1824. Hang Tuah telah memiliki kesadaran lintas budaya yang luas. Tokoh ini menjadi satria yang diutus ke Majapahit bahkan berhasil mengalahkannya. Tokoh ini juga melanglang buana dan melakukan perjalanan diplomasi ke beberapa negara, seperti Thai, Keling, Cina, dan Rum (Turki).
Hang Tuah juga memiliki sifat-sifat kepahlawanan yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan, seperti yang sudah disebutkan diatas salah satunya adalah sifat kesetiaan terhadap pemimpin, selain itu juga dilansir dari salah satu bait balada yang berjudul “Balada Hang Tuah”, tersebutlah kata-kata berikut: "Cucuk Peringgi menarik layar Induk dicari tempat berhindar. Angkatan besar maju segera Mendapatkan payar ratu Melaka. Perang ramai berlipat ganda Pencalang berai tempat ke segala".
Dijelaskan pula makna bait tersebut adalah, meskipun peperangan laut semakin sengit, tetapi kekuatan semakin tidak seimbang. Rangsakan kapal Portugis semakin mencerai beraikan perahu Melaka. Badai kematian bagaikan guntur gemuruh suaranya membelah angkasa. Meriam pamungkas akhirnya mengakhiri hidup Laksamana Hang Tuah. Ia gugur sebagai kusuma bangsa dan kembali keharibaan samudra luas Laut Malaka. Tentunya hal ini bisa disimpulkan bahwa Hang Tuah beserta kawan-kawannya memiliki semangat pantang menyerah yang sangat cocok untuk diimplementasikan pada zaman sekarang.
Dikutip dari Utomo (2019) Biografi Tokoh Dunia: Hang Tuah, Pahlawan dan Laksamana Malaka, Hang Tuah diperkirakan lahir pada 1444 M di Malaka (kini Malaysia), dan merupakan putra dari pasangan Hang Mahmud serta Dang Merdu Wati. Beberapa kejadian yang melibatkan Hang Tuah ialah kunjungan ke Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur, ia ditantang seorang pendekar bernama Taming Sari untuk berduel. Kemudian pertahanan Malaka terhadap serangan Portugis dan yang paling terkenal adalah duel Hang Tuah melawan sahabatnya, Hang Jebat.
Dalam salah satu tulisan di maritimnews.com oleh Sulistiawan (2016) berjudul Hang Tuah dan Persaudaraan Indonesia-Malaysia, Hang Tuah mungkin bisa menjadi pemersatu antar dua bangsa yang di masa lalu pernah menyatu. Artinya, selain ditetapkan sebagai pahlawan di Negeri Jiran, Hang Tuah juga diyakini menjadi salah satu tokoh yang dapat mempersatukan Indonesia dengan Malaysia karena identitas rumpun Melayu.
| Relief Hang Tuah di Museum Negara, Melaka (Wikimedia) |
Untuk mengenang jasa kedua laksamana tersebut, pemerintah daerah membangun patung mereka di kawasan Wisata Bintan Resort Lagoi, di Kabupaten Bintan Kepri. Hal ini tentunya menjadi salah satu bentuk mengenang Hang Tuah sebagai figur Melayu secara monumental.
Maka dapat disimpulkan, Hang Tuah adalah seorang tokoh yang menjadi simbol bangsa Melayu karena kehebatan dan kebaikan sifat-sifatnya. Selain itu juga Hang Tuah menggambarkan kebudayaan Melayu, bisa juga dikatakan representasi jiwa bangsa melayu itu sendiri yang terkenal akan lemah lembut, berani, setia, dan berpegang teguh dengan nilai keislaman seperti kata-kata Hang Tuah “Tidak akan Melayu Hilang dari Dunia, selagi mana Melayu beramal dengan agama Islam.”


0 Comments