![]() |
| Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyerahkan tumpeng kepada Petra Matic, mewakili seluruh seniman-budayawan yang menjadi kurator dalam Pontianak Biennale 2026, Jumat (25/9) (Dok. Abhinaya R) |
Oleh: Abhinaya Rivarieztho
Perhelatan Pontianak Biennale 2026 resmi dibuka, menampilkan seniman dan budayawan lokal hingga internasional dan kegiatan-kegiatan pendukung yang atraktif-edukatif.
Pontianak Biennale 2026 resmi dibuka pada Jumat, 25 September 2026, dengan mengangkat tema “Arus, Pertemuan, dan Gelombang”. Puncak pembukaan raya digelar di Port 99, Jalan Komodor Yos Sudarso No. 99, Sungai Jawi Luar, Pontianak Barat, yang menjadi salah satu dari tujuh titik ruang publik yang “dihidupkan” selama biennale berlangsung. Tema tersebut menempatkan Sungai Kapuas sebagai urat nadi Kota Pontianak yang menjadi sumber filosofi utama dalam membaca hubungan antara manusia, ruang, sejarah, dan kebudayaan.
Kehadiran biennale ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman seni yang berkelindan dengan identitas kota, sejarah sungai, serta dinamika kehidupan masyarakat Pontianak. Acara dibuka langsung oleh Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, yang dalam sambutannya mengapresiasi sinergi seniman dan budayawan lokal hingga mancanegara.
![]() |
| Walikota Pontianak memperhatikan pameran seni rupa di Pembukaan Pontianak Biennale 2026 (Dok. Abhinaya R) |
Diantaranya dari Inggris, India, Belanda, Thailand, Hongkong, Vietnam, Jepang, Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Dalam kesempatan tersebut, walikota menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Biennale yang turut merespons kondisi alam dan kehidupan perkotaan, khususnya isu hubungan manusia dan lingkungan. Kegiatan ini dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, seniman, budayawan, dan masyarakat dalam membicarakan masa depan kota.
Pameran dimeriahkan dengan keberagaman bentuk ekspresi seni yang ditampilkan, mulai dari lukisan, patung (sculpture), hingga instalasi video visual. Karya-karya yang dipamerkan mengangkat pesan-pesan mendalam serta kritik sosial terkait isu lingkungan dan alam, khususnya mengenai Sungai Kapuas sebagai nadi kehidupan. Kegiatan ini menurut walikota mampu menarik minat wisatawan, menggerakkan ekosistem kreatif, serta mempertemukan berbagai kalangan masyarakat untuk berefleksi dan berdialog bersama.
Pameran Arsip Gerakan Non Blok 1960
Selain adanya pameran seni rupa, terdapat pula foto seni fotografi berupa arsip yang dipamerkan oleh Petra Matic dari Kroasia, tentang mahasiswa Indonesia di Yugoslavia sebelum Gerakan Non-Blok (GNB) didirikan. Khususnya menampilkan perjalanan hidup Dr. Supjan Tanuwidjaja dan rekan-rekannya di Kroasia sejak era 1960-an yang waktu itu masih menjadi bagian dari Yugoslavia. Pameran arsip bertajuk "Arsip Non-Blok, Zagreb, HR" ini merekam memori kolektif perjuangan para mahasiswa eksil Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran sebelum melanjutkan studi anestesiologi di Zagreb, Kroasia. Arsip ini juga menegaskan pentingnya penyelamatan memori sejarah kolektif sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya multikultural global.
![]() |
| Gusti Enda dan Petra Matic, mendampingi walikota dalam meninjau pameran arsip GNB (Dok. Abhinaya R) |
Dalam penjelasannya, Petra Matic berujar bahwa pameran ini ditujukan untuk memulihkan ingatan tentang para mahasiswa internasional yang pernah belajar di Zagreb, Kroasia. Mahasiswa ini merupakan fondasi dari diaspora yang tinggal di Kroasia saat ini, dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. “Ide utamanya membawa kembali penelitian ini karena, sayangnya, kami telah kehilangan ingatan ini di Kroasia selama perang ketika kami berhenti menjadi bagian dari Yugoslavia. Dan alasan kedua adalah untuk membangun kembali hubungan politik persahabatan dengan para seniman, kolektif, dan lembaga-lembaga di Indonesia”.
Wacana Museum Kota
Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan bahwa daya saing serta kreativitas para seniman Kalimantan Barat sama sekali tidak kalah dibandingkan dengan seniman mancanegara. Beliau mengaitkan potensi seni ini dengan rencana rehabilitasi gedung cagar budaya SDN 14 Pontianak Kota yang akan dialihfungsikan menjadi museum kota. Seniman dan budayawan diharapkan dpaat berkolaborasi dalam mengisi serta mempresentasikan narasi sejarah dan budaya kota di museum tersebut. Agar perjalanan Kota Pontianak dapat terdokumentasikan dengan baik dari masa ke masa.
![]() |
| Koordinator Panitia Gusti Enda (kanan) bersama Walikota Pontianak (Dok. Abhinaya R) |
Salah satu kegiatan menarik dalam rangka Pontianak Biennale 2026 ialah adanya susur sejarah melalui jalur sungai dan darat yang digawangi oleh Komunitas Wisata Sejarah (KUWAS). Pra-pembukaan telah melakukan kunjungan ke Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang, yang termasuk titik awal pembangunan Pontianak. Kolaborasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan dan praktisi seni-budaya ini menjadi momentum yang baik. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat citra Kota Pontianak sebagai kota yang berbudaya sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata daerah.
---
Editor: Rikaz




0 Comments