![]() |
| Pemateri dan peserta diskusi sejarah peringatan Hari Berkabung Daerah (HBD) di Disperpusip Kota Pontianak (28/6). (Dok. Panitia) |
Oleh:
Adinda Salsabila, Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Tanjungpura
PONTIANAK, 28 Juni 2026 - Ruang Studio Perpustakaan Kota Pontianak menjadi saksi khidmatnya kegiatan refleksi sejarah dalam rangka memperingati Hari Berkabung Daerah (HBD) atau Peristiwa Mandor 1944. Dipandu oleh duet MC Lusiana dan Dewi Aprilia Maharani, acara ini berjalan sukses dengan esensi mendalam mengenai nilai sejarah dan refleksi masa depan.
Acara diawali dengan laporan Ketua Panitia, Ferry Yansyah, serta kata sambutan dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak yang diwakili oleh Kabid Kearsipan. Keduanya menekankan pentingnya agenda ini sebagai wadah literasi sejarah bagi masyarakat. Suasana haru kemudian menyelimuti ruangan saat Ibu Erni Setia Putri, perwakilan keluarga korban, membagikan kisah pilu kakeknya yakni Syarif Saleh Alidrus (Tuan Besar Kubu) yang menjadi korban tragedi tersebut. Bagi beliau, luka sejarah itu sangat membekas di garis keturunan keluarga.
Untuk menjaga ritme emosi peserta, panitia menyisipkan sesi pembacaan puisi perjuangan yang dibawakan secara apik oleh anggota Komunitas Setara (Suara Literasi Membara). Pembacaan puisi yang dilakukan secara selang-seling sebelum dan sesudah sesi diskusi utama ini berhasil menambah atmosfer emosional di dalam ruangan.
Masuk pada agenda inti, kendali acara diserahkan kepada Judirho, Ketua Lembaga Pers (LPM) Mahasiswa Universitas Tanjungpura, selaku moderator yang memimpin jalannya sesi pemaparan materi hingga diskusi. Pemateri pertama, Karel Juniardi selaku Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), mengulas landasan regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pelaksanaan Hari Berkabung Daerah setiap tanggal 28 Juni. Karel menjelaskan bahwa regulasi ini menjadi amanat penting agar kegiatan edukatif seperti diskusi dan seminar sejarah terus dilestarikan. Beliau juga memaparkan bagaimana operasi pembersihan tentara Jepang kala itu secara kejam menyasar kaum elite intelektual dan pemuka penting Kalbar, mulai dari raja-raja (sultan), dokter, hingga tokoh masyarakat dan adat.
![]() |
| Pemateri Karel Juniardi dan M. Rikaz P (kiri-kanan), dan moderator Judirho (tengah) (Dok. Panitia) |
Sesi dilanjutkan oleh pemateri kedua, Mohammad Rikaz Prabowo yang membedah akar kekerasan Peristiwa Mandor dari faktor ideologis (fasisme dan militeristik Jepang) serta faktor non-ideologis (doktrin Imperial Japanese Navy/Angkatan Laut Jepang, luasnya wilayah operasi, dan tekanan psikis/stres serdadu Jepang). Rikaz juga membeberkan tiga penyebab utama pembunuhan massal tersebut, yaitu permanent settlement, adanya indikasi perlawanan dari tokoh lokal, dan ambisi penguasaan ekonomi secara mutlak.
Setelah pemaparan kedua pemateri selesai, suasana Ruang Studio semakin hidup saat memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh para peserta yang aktif melontarkan berbagai pertanyaan kritis kepada narasumber. Diskusi berlangsung hangat, terutama ketika membahas persoalan jumlah korban Peristiwa Mandor yang di dalam berbagai sumber sejarah masih terdapat perbedaan pendapat dan data angka. Peserta dan pemateri bersama-sama membedah bagaimana menyikapi perbedaan catatan historis tersebut, sekaligus menegaskan bahwa terlepas dari dinamika jumlah angka yang beredar, esensi tragedi kemanusiaan ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kalimantan Barat.
Sebagai penutup, Rikaz menyampaikan refleksi penting agar Perda Hari Berkabung Daerah dapat diimplementasikan secara lebih luas. Terlebih, pada tahun depan regulasi historis ini akan menginjak usia 20 tahun, sebuah momentum krusial bagi generasi muda untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai perjuangan para pendahulu telah dihidupkan dalam ingatan publik demi membangun masa depan Kalbar yang lebih baik.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dari beberapa pihak, diantaranya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Majalah Riwajat, Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura, dan Komunitas Setara, serta dibantu oleh mahasiswa pendidikan sejarah dari Untan maupun UPGRI Pontianak. Banyak harapan dari hadirin selama kegiatan agar kegiatan seperti ini dapat tetap berlanjut di tahun berikutnya dengan konsep yang lebih bervariasi dan data-data hasil penelitian termutakhir.


0 Comments