ANNOUNCEMENT

News Ticker

7/recent/ticker-posts

Himsera Untan Adakah Seminar Bertema Sejarah Pendidikan Islam di Pontianak

Panitia seminar dan pembicara seminar Sejarah Pendidikan Islam di Pontianak
(Dok. Himsera Untan)


Penulis: Lisna Fatmawati


Pontianak  Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (HIMSERA) FKIP Universitas Tanjunpura mengadakan kegiatan Pembukaan dan Seminar History Fest pada Sabtu, 2 Mei 2026 di ruang B1-B2 FKIP UNTAN. Kegiatan ini berlangsung pukul 08.00 – 12.00 WIB dan terbuka untuk umum dengan mengangkat tema “Seminar dan Perkembangan Islam di Pontianak sebagai Pusat Dakwah di Kalimantan”. 

Kegiatan ini sendiri dibuka oleh Astrini Eka Putri selaku dosen yang mewakili Koorprodi Pendidikan Sejarah FKIP UNTAN. Seminar ini dipandu oleh moderator Nailsya Putri Maghfira yang diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP UNTAN, mahasiswa perguruan tinggi lainnya, dan peserta umum yang antusias dalam mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Dalam seminar ini, pemateri pertama yakni Zulkifli selaku dosen sejarah di IAIN Pontianak memaparkan bagaimana perkembangan pendidikan Islam di Pontianak sebelum kemerdekaan. Ia menjelaskan bahwa pendidikan Islam telah berkembang sejak masa kesultanan hingga berlanjut pada periode kolonial yang melibatkan peran ulama, kesultanan, dan masyarakat. Perkembangan Islam ini ditandai dengan berdirinya berbagai lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah yang menjadi bagian dari dinamika pendidikan pada masa tersebut. 

Kemudian materi kedua disampaikan oleh M. Rikaz Prabowo selaku Dosen Pendidikan Sejarah FKIP UNTAN yang membahas pendidikan bagi perempuan muslim di Pontianak. Beliau memaparkan bahwa awal pendidikan perempuan di Pontianak masih terbatas pada ranah nonformal. Namun, seiring waktu mulai berkembang dengan munculnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan didukung oleh organisasi-organisasi perempuan yang aktif dalam bidang sosial dan pendidikan. Pendidikan Islam ini juga sebagai respons terhadap pendidikan kolonial di Pontianak.

Berlanjut pada sesi diskusi interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satu pertanyaan yang menarik disampaikan oleh Sutrisna yang menyinggung bagaimana keberadaan manuskrip Melayu di Kalimantan Barat khususnya apakah naskah-naskah ini masih sering dikaji, dikenal luas hingga sekarang. Pertanyaan ini membuka diskusi mengenai pentingnya pelestarian terhadap sumber-sumber sejarah lokal sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam.

Kegiatan ini ditutup oleh moderator dengan menyampaikan bahwa pendidikan Islam baik secara umum maupun bagi perempuan memainkan peranan yang penting dalam membentuk kualitas masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan Barat. Ia menegaskan bahwa pendidikan khususnya bagi perempuan, merupakan fondasi dalam membangun generasi yang berakhlak dan berilmu. Selain itu, ia juga mengingatkan bagaimana pentingnya melestarikan dan menjaga khazanah keilmuan Islam termasuk kitab dan manuskrip berbahasa Melayu agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.


Editor: M. Rikaz Prabowo

Post a Comment

0 Comments