![]() |
| Petani yang ditangkap oleh aparat kolonial di Banten pada 1888 (KITLV) |
Oleh: Rama Aditya Putra
Pergolakan dan gerakan sosial yang sebenarnya melibatkan tiga unsur penting di tengah masyarakat Banten kala itu, yakni petan-ulama-santri.
Malam di tanah Banten itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin dari pesisir Anyer membawa aroma sawah basah yang belum sempat dipanen, bercampur asap damar dari rumah-rumah bambu yang mulai memadamkan pelita. Di kejauhan, suara langkah tergesa memecah jalan tanah yang lembap. Para petani dengan ikat kepala lusuh berjalan diam-diam menuju surau kecil di ujung kampung. Wajah mereka letih, tetapi mata mereka menyimpan sesuatu yang lebih besar daripada rasa takut: kemarahan yang dipendam terlalu lama. Sudah bertahun-tahun rakyat Banten hidup di bawah tekanan kolonial Belanda. Pajak tanah semakin tinggi, hasil panen terus menurun, sementara kehidupan rakyat kecil semakin tercekik oleh sistem administrasi kolonial yang menindas.
Dalam kehidupan sehari-hari, penjajahan tidak hadir sebagai konsep politik yang jauh di Batavia, melainkan hadir nyata dalam bentuk tenaga yang diperas, sawah yang hasilnya diambil, serta martabat masyarakat yang perlahan direndahkan. Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888, menjelaskan bahwa gerakan rakyat Banten dipengaruhi tekanan sosial, ekonomi, dan agama. Demikian Oky Nugraha Putra dan Anugrah Rahmatullah (2025) dalam penelitiannya berjudul Pandangan Sartono Kartodirdjo Mengenai Metodologi dan Historiografi di Indonesia dalam Buku Pemberontakan Petani Banten 1888.
Peran Surau dan Ulama
.jpg)
Masjid di Kampung Beji, Cilegon, Banten 1888 (KITLV)
Di tengah situasi itu, surau dan pesantren menjadi tempat rakyat mencari perlindungan sekaligus harapan. Para ulama kampung tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin agama, tetapi juga menjadi tempat masyarakat mengadukan penderitaan mereka. Dari ruang-ruang sederhana itulah tumbuh keyakinan bahwa penindasan tidak boleh terus dibiarkan. Surau yang biasanya dipenuhi lantunan ayat suci perlahan berubah menjadi ruang diskusi rahasia tentang perlawanan terhadap kolonialisme.
Pemberontakan Petani Banten 1888 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme Belanda. Peristiwa ini terjadi terutama di wilayah Cilegon dan sekitarnya pada 9 Juli 1888. Meski sering disebut sebagai “pemberontakan petani”, gerakan tersebut sebenarnya melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani, santri, hingga para ulama lokal yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat Banten.
Pada akhir abad ke-19, kondisi sosial masyarakat Banten sedang mengalami tekanan berat. Pemerintah kolonial Belanda memperluas pengaruh administratif hingga ke desa-desa. Pengawasan terhadap masyarakat diperketat, sementara kedudukan para ulama mulai dicurigai karena dianggap memiliki pengaruh politik dan sosial yang kuat. Selain itu, perubahan struktur sosial akibat sistem kolonial membuat rakyat kecil semakin kehilangan ruang hidupnya. Kemiskinan yang berkepanjangan diperparah oleh gagal panen dan kewajiban pajak yang tetap harus dibayar.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat mulai memandang pemerintah kolonial sebagai sumber penderitaan. Ketidakpuasan rakyat terus menumpuk dan perlahan berubah menjadi kemarahan kolektif. Menurut penelitian tentang perubahan stratifikasi sosial masyarakat Banten sebelum 1888, sistem sosial kolonial menciptakan ketimpangan yang semakin menindas rakyat kecil dan menjadi salah satu faktor utama lahirnya pergolakan sosial di Banten. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008), menyebut Banten sebagai wilayah dengan tradisi Islam yang kuat dan memiliki hubungan erat antara ulama dan masyarakat desa.
Di tengah tekanan tersebut, para ulama memainkan peran yang sangat penting. Mereka menjadi penghubung antara agama dan realitas sosial masyarakat. Banyak rakyat yang percaya bahwa melawan penindasan adalah bagian dari mempertahankan kehormatan dan martabat manusia. Karena itu, gerakan perlawanan di Banten tidak dapat dipahami hanya sebagai kerusuhan spontan atau gerakan fanatik semata, melainkan sebagai akumulasi panjang dari penderitaan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat.
Nama-nama seperti Kiai Wasid sering disebut sebagai tokoh penting dalam perlawanan ini. Para ulama menggerakkan rakyat melalui jaringan pesantren dan surau yang tersebar di berbagai kampung. Pertemuan-pertemuan rahasia dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Di tempat-tempat sederhana itulah rakyat mulai menyusun keyakinan bahwa mereka harus melawan penjajahan meskipun dengan segala keterbatasan.
Pada malam 9 Juli 1888, gelombang perlawanan akhirnya meledak. Massa bergerak menyerang beberapa pusat pemerintahan kolonial di wilayah Cilegon dan sekitarnya. Mereka membawa senjata sederhana seperti golok, bambu runcing, dan senjata tradisional lainnya. Namun yang paling besar sebenarnya bukanlah kekuatan senjata mereka, melainkan keberanian untuk melawan ketidakadilan yang telah berlangsung terlalu lama. Sayangnya, perlawanan tersebut tidak berlangsung lama.
Pemerintah kolonial Belanda bergerak cepat menggunakan kekuatan militer modern untuk menghancurkan gerakan rakyat Banten. Banyak petani dan ulama ditangkap, dipenjara, bahkan dibuang ke luar daerah. Sebagian lainnya gugur di medan perlawanan tanpa pernah tercatat namanya dalam sejarah resmi. Dalam banyak arsip kolonial Belanda, rakyat Banten saat itu justru digambarkan sebagai pemberontak liar dan pengacau keamanan. Perspektif kolonial melihat gerakan tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas pemerintahan. Padahal, di balik aksi itu terdapat kenyataan pahit tentang masyarakat yang terlalu lama hidup dalam penindasan dan ketidakadilan. Menurut Ramona dan Anggraini (2025) dalam Pemberontakan Petani Banten 1888: Narasi Sejarah Sartono Kartodirjo tentang Perempuan, sistem kolonial yang diterapkan telah memperbesar ketimpangan sosial di masyarakat Banten.
Tonggak Perkembangan Historiografi Indonesia

Buku Pemberontakan Petani Banten 1888 karya
Sartono Kartodirdjo (Komunitas Bambu)
Sejarawan Indonesia, Sartono Kartodirdjo, melalui karya monumentalnya Pemberontakan Petani Banten 1888, memberikan sudut pandang baru dalam melihat peristiwa ini. Ia menjelaskan bahwa pemberontakan tersebut merupakan gerakan sosial rakyat yang dipengaruhi tekanan ekonomi, agama, dan ketidakpuasan terhadap kolonialisme. Kajian Sartono juga dianggap penting karena mengubah cara penulisan sejarah Indonesia yang sebelumnya terlalu berpusat pada elite dan penguasa. Ia justru menghadirkan rakyat kecil sebagai pelaku utama sejarah.
Dalam kajian historiografi modern, karya Sartono Kartodirdjo dianggap sebagai tonggak penting dalam perkembangan sejarah sosial di Indonesia. Pendekatan ilmu sosial digunakan untuk memahami gerakan rakyat dan menyoroti kelompok-kelompok marginal yang sebelumnya jarang mendapat tempat dalam penulisan sejarah kolonial.
Menariknya, pemberontakan ini juga memperlihatkan bagaimana agama menjadi sumber solidaritas sosial masyarakat Banten. Surau dan pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi rakyat tertindas. Dalam konteks itu, agama tidak hadir sebagai simbol kekerasan, melainkan sebagai sumber moral untuk melawan ketidakadilan dan mempertahankan harga diri masyarakat. Hingga hari ini, jejak Pemberontakan Petani Banten 1888 masih hidup dalam ingatan masyarakat Banten.
Cerita tentang para petani yang berkumpul diam-diam di surau, tentang ulama yang diburu pemerintah kolonial, hingga kisah keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat perlawanan, tetap diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita lisan dan tradisi lokal. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh tokoh besar di pusat kekuasaan, tetapi juga oleh rakyat kecil di kampung-kampung yang berani melawan penindasan. Mereka mungkin tidak memiliki senjata modern, tidak memiliki pendidikan tinggi, dan tidak memiliki kekuasaan politik, tetapi mereka memiliki keberanian untuk mempertahankan martabat hidupnya. Menurut berita daring Kompas TV berjudul 'Mengenang Kembali Pemberontakan Petani Banten 1888' tanggal 14 Juli 2021, pemberontakan tersebut menjadi simbol keberanian rakyat kecil melawan kolonialisme.
Kini, lebih dari satu abad setelah peristiwa itu terjadi, Pemberontakan Petani Banten 1888 tetap relevan untuk dipelajari. Ia mengajarkan bahwa ketidakadilan sosial yang dibiarkan terlalu lama dapat melahirkan ledakan perlawanan. Di sisi lain, sejarah tersebut juga menunjukkan bahwa rakyat kecil memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa, meskipun nama-nama mereka sering kali hilang dari buku sejarah resmi. Surau-surau kecil di tanah Banten mungkin kini telah berubah bentuk. Namun semangat yang pernah tumbuh di dalamnya, semangat untuk melawan penindasan dan mempertahankan martabat manusia—tetap hidup dalam ingatan sejarah Indonesia.
---
Editor: M. Rikaz P
.jpg)
0 Comments